Selasa, 22 Agustus 2017

Pintu


Terhadap tanganmu ia terbuat dari apa saja. Bahkan jembatan yang menyeberanginya turut menyusunmu dari lekatan madu. Ia masukkan luar dan dalam di satu saku baju. Karena saku lainnya telah penuh gurau gundu. Gemerincing seperti persua-jumpa. Jembatan sepanjang Februari dan origami perahu. Tapi kau tak di situ. Kau lebih dari bilangan yang melipat-lipatkan dirinya hingga bergetah.

Sampai berderik meranti langgai. Dari sakunya menggelinding mata-mata belia. Memenuhi beranda. Menabuh parau ladang. Mencelupkan ujung kakinya pada perjalanan mencari air. Menemukan seutuhnya dirimu adalah tarian lebah. Suara-suara yang berumah di udara. Tanganmu mengeluarkan dalam sebagai hujan. Hingga alisku, pingganku, kasutku, bilahku, tenggelamku dalam dalam.

Terhadap ingatanku kau terbuka dari apa saja. Seperti batang sungai yang tak berdaun pintu. Tiada ketukan-ketukan. Hanya laju perahu. Menujumu yang tidak ada di situ.

Rabu, 31 Mei 2017

Semesti

Apa yang seharusnya aku lihat?

Ombak bergelung melepaskan keluasan cemas ke udara. Air demi air meminta wajah, meminta satu nama untuk disebutkan supaya kau memiliki semua huruf untuk dipertanyakan. Tanpa khawatir bayangan yang tumbuh perlahan tak pernah mencapai tepian. Segala tempat untuk menambat

Seperti arang dari rumah dahimu yang terbakar. Aku ingin begitu saja turun. Merendahkan hati sambil mengingkari semua bercak siasat yang telah tumpah sebelumnya. Di atas lantai. Tepat ketika lima pasang kaki langit berhenti sejenak dan mengusap ujung sepatunya yang terbuat dari kulit hujan. 

Minggu, 30 April 2017

Rahim Ligula

1.
Merah ladang tak memiliki
Selihai api menggegar gigil belanga
Butiran hara berkusam bakal jagung begitu
Remah di rekah-rekah tanah seumpama  gadis gering
Terlampau lama berlawa-lawa. Tak sempatlah runduk
Terpandang pulang lebah-lebah peminang. Serabut akar
Yang membawa ruhnya ke rahim ligula. Dari malai
Ke keranuman langit
Kemuning daging
Keluasan bakul tanak
Tawa riang anak-anak
Tiada

2.
Sekerat anyam pandan memasang gelanggang
Menyilakan lapar berhasrat lembu bertemu kubangan
Lumpur yang tersangkut di sela jala yang ditebarkan
Namun ikan tembakul selalu belum selesai dibuat
Lubuk dan payau terlalu sibuk menghalau kemarau
Ke tepi hutan di mana lelaki mereka tak litak kehendak
Giat memerangkap burung burung terlalu ligat
Sampai lupa di bilik rumah ada yang mulai berlepasan
Temali yang menjulur dari matanya mulai dikendurkan
Menjeratkan sendiri maut batu dan segala cahaya
Yang pernah ada di kepala
Matahari mereka

3.
Maka terlalukah bila
Perempuan luka menyebatang kara
Ruas jemari lemah sendiri. Sanggul tak terbuhul
Patah pucuk membuluh lentur; amaran demi amaran
Dua jantung rebung. Tingkah dan berulah
Sampainya merajuk sendiri tak tertanggung
Menunggang langgang Mak Tanjung
Isak bertuah kepada batu
                Hati patah
                Siuh bersanggup
                Batu belah
                Batu bertangkup

4.
Sepasang sayap
Terbang rendah
Antara nirwana
Dan daun pintu
Yang tertutup
Di telapak kakinya

5.
Mak, lihatlah
Sekarang di rumah
Sesekali datang semut tanah
Mereka begitu pintar menghindar
Bahagian yang basah

Jumat, 31 Maret 2017

Jalan Penyair



Penyair, mesti mengungkapkan sesuatu yang tak terpikirkan orang lain. Atau, dalam ungkapan para teoretikus sastra-sastrawan -penyair- mengolah peristiwa biasa menjadi luar biasa; melihat sebuah kegilaan dari kegilaan yang lain, memandang peristiwa apa pun dengan intuisi dan menerjemahkannya dengan pemahaman metalogika. 

Dalam bahasa yang lebih filosofis, menangkap fenomena, bukan dari gejala atau tanda-tanda, melainkan dari sesuatu yang jauh berada di depannya. Fenomena sekadar sebagai sinyal pada sesuatu yang melewati batas kehidupan. Ini bukan perkara rasionalitas -irasionalitas, melainkan rasionalitas-metarasionalitas.


Dikutip dari buku Jalan Puisi; Dari Nusantara ke Negeri Poci - Maman S Mahayana

Kepompong Kata


Sebagai penyangkal usia yang terlatih, saya bisa tiba-tiba jatuh ke level amatir bila terjumpa penyair muda yang karyanya bikin belingsatan. Terpesona oleh karyanya, sekaligus iri. Meskipun belakangan saya mesti teringat lagi bahwa di dunia ini kita hanya boleh iri kepada tiga hal.

Adalah Surya Gemilang yang kali ini mengusik saya. Pemuda kelahiran Denpasar 21 Maret 1998 ini karyanya sudah tembus Kompas, dengan tema-tema yang diangkat cukup esensial. Seperti puisinya yang bertajuk Kepompong Kata berikut ini

Kepompong Kata


makna di dalam kepompong. kata yang membusuk
menghujani pinggiran jalan
seperti cahaya lampu kendaraan
kulit definisi mengering. menipis. tumbuh retak di mana-mana
sedangkan makna seperti mencurangi waktu

disetubuhi lidah dan liur, kata sanggup berganti pakaian
berganti tubuh
yang satu tetap aman di kapal kamus. sisanya
liar memangkas kultur.

(Jakarta, 2016)

Judulnya barangkali tidak terlalu spesial karena paduan kata ini sudah lumrah kita dengar. Tapi lihatlah bagaimana Surya membatangtubuhkan puisinya. Sebaran kata yang merangkum beberapa citraan visual. Kepompong, hujan, jalan, lampu. Kesemuanya dijejalinkan dengan makna, kata dan definisi. 

Makna yang ada di dalam kepompong itu, adalah kata yang membusuk, yang menghujani pinggiran jalan, menerangi seperti cahaya lampu kendaraan. Sementara kulit definisi mengering, menipis (tapi tidak habis), lalu tumbuh -tapi- retak di mana-mana sedangkan makna seperti mencurangi waktu.

Asik sekali ya bait pertama ini. Makna dalam kepompong, artinya si makna tersebut masih akan mengalami proses, berubah menjadi sesuatu -yang baik. Tapi makna tersebut adalah kata yang membusuk. Sudah pun begitu ia turun seperti hujan. Hujan cahaya lampu yang menerangi jalan. Tentu saja jalan di sini bukan sekadar tempat berlalu lalang kendaraan, tapi arah kemana hidup kita dilangkahkan/dijalankan dengan 'kendaraan'.

Sementara itu definisi dari kata tersebut digambarkan sebagai kulit (sesuatu yang tipis dan permukaan), itu pun masih menipis pula, tambah lagi ia retak (sejalan dengan waktu) sementara makna bergerak mencurangi/tidak terikat oleh waktu. 

Di situ terlihat sekali penegasan perbedaan antara kata defini dan makna. Tiga serangkai yang jadi esensi dalam dunia puisi, digambarkan bisa sangat paradoks sekali.

Kata -pada bait berikutnya- disetubuhi (dicerna) oleh lidah dan liur. Penggunaaan kata disetubuhi sendiri bisa sangat kompleks sebenarnya. Pergulatan dalam ucapan (mulut yang dalamnya ada liur dan lidah). Selain itu kata juga bisa berganti pakain atau tubuh, bentuk ataupun makna dari kata itu sendiri. Yang satu tetap aman (dalam koridor kamus) sementara kata bisa bergerak bebas di luar itu. Baik melalui pengembangan makna, ataupun sebaliknya.

Aduhai, saya sama sekali tak pernah berekspektasi bahwa puisi semacam ini ditulis oleh remaja belasan tahun. Sangat dalam sekali.




Kamis, 30 Maret 2017

Garis Pantai, Liku Benua dan Lukisan di Atas Kafan yang Dihapuskan

Mereka mencintai kekasih. Kekasih angkasa dengan udara. Hidup kena memijak kemana telapak putih itu menjejak. Memanjat buah-buah berdahan rendah. Ambillah. Ambillah. Untuk membasuh dadamu. Tempat doa-doa mestika dimestikan. Jadi sepasang tongkat-atau tombak? Kala hari lelah melembah. Cahaya lembing. “Pandanglah kami sekali sekala.” Biar laju darah dan air mata berhulu pada yang Satu.

Sebenar maut menggelinding. Cangkang putih renta retak meretak. Lelehannya sekemuning maghribi. Setangkup wewarna. Lelahannya seluka duka. Menyulih taswir wajah-wajah. Sejak tangis pertama pecah di putaran pusara. Wadd, Yaghuts, Ya’uq, Nasr dan Suwa. Nafas-nafas suci yang mangkat silih semilih. Membawa segala kelembutan anginan. Hanya sisa pilu rintih. Benang-benang putih. Berjejalin menjaring-jaring. Huluran kafan membentang-bentang.

“Aku mendengar ratapan kalian, apakah kalian mau aku gambarkan wajahnya sehingga bisa kalian kenang?” Seorang lelaki kerling. Menjanjikan dan menjadikan. Hitam. Titik menetes. Garis menetas. Rupa menegas. Dipandang di awangan. Dibakar bersama tembikar. Direca bersama batuan. Di rumah-rumah. Disembah-sembah. Yang memasukkan musim gugur pada semi. Yang gampang belaka merendahkan matahari.

Duka berganti dupa. Asap tebal menguar di celah antara dua mata menghamba. Turun ke segala ceruk dan perkakas sebagai hujan hitam pewarna. Angan tangan mereka dituntunkan supaya lihai melukiskan. Melekaskan goresan-goresan itu pada segala yang mendatang pandang. Untuk melekatkan wajahMu. Dari garis pantai hingga kemuncak liku benua. Tak terhapus. Sekalipun hujan paling humus.

Kecuali seorang lelaki yang datang dari mereka sendiri. Tubuhnya tak mengenal lakuan dupa. Tak berkuas kayu. Tak berkuasa memahat batu yang ditumpukkan. Lelaki Nuh. Menyeberangi terjangan siang. Menapaki libasan malam. Kepada mereka. Suaranya bening bak tasik tembus cahaya. Di ladangnya 950 batang -atau kurang lebih dari itu ditumbuhkan. Namun teramat sedikit yang berbuah. Selebihnya ranting-ranting tabah.

“Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata,” timpal mereka. “Datangkanlah azab pada kami jika kamu benar adanya.”

Lalu turun titah untuk mematah pohonan. Ke atas bukit yang nanti akan menjadi bukti bahtera. Haluan buritan ribuan hasta. Maka ketika seluruh kayu dan paku telah terakit. Pintu-pintu bumi dibuka. Seluruh sungguh penjuru langit menjatuhkan sumbu-sumbu. Lalu dinyalakan. Hujan paling benderang. Tanur yang memancar. Mengejar angin-angin lebih dahulu berlari tak bertemu lindung-lindungan. Menenggelamkan angan-angan yang dahulu bergantung pada sesembahan. Mudah saja terhapuskan. Hingga puncak dunia mana saja. Hitam dan hanya gelimpang hitam semata.

Kecuali seorang lelaki yang datang dari Nuh sendiri. Tubuhnya dirundung ombak. Nuh berseru menawar sauh. Kan’an menikainya. Ia tahu hakikat tuhannya, bersetia, dan menjatuh air muka Nuh -wajah yang tak kalah bah. Tapi ia tidak tahu bahwa di dasar bahtera. Hewan pungkasan. Sepasang keledai itu. Siapa yang sedari datang diam-diam bergelayutan di perutnya?

Rabu, 29 Maret 2017

Puisi Seja(t)uh Ini




Saya dan puisi seperti sepasang kekasih, yang sudah terbiasa membenci satu sama lain. Namun seringkali menemukan (atau dipertemukan) cara untuk bertemu lagi dan bicara "Aku tak bisa hidup tanpamu!" Aneh. Seaneh puisi itu sendiri. Juga saya -barangkali. Karena sampai sejauh ini saya masih belum ngerti apa itu puisi. Meskipun ia sering menatap mata saya dalam-dalam hingga tenggelam. Saya sungguh tak berkutik dibuatnya.

Saya sangat butuh puisi seperti saya menginginkan jantung hati saya menjadi transparan. Menjadi setumpuk berkas yang mudah saja saya membacanya. Sehingga saya tahu apa yang sebenar-benarnya apa yang saya rasakan. Seperti perasaan saya ketika melihat kabut turun di pegunungan. Dada saya terasa penuh. Begitu saja. Tapi saya tidak tahu apa yang sebenarnya saya rasakan, selain penuh. Tidakkah ini aneh.

Dan puisi seringkali manja, ia tidak serta merta ada ketika kita membutuhkannya. Apalagi kalau saya sudah meningggalkannya dalam waktu yang lama. Butuh usaha keras untuk membujuknya dari masa merajuk. Butuh baca buku-buku puisi dulu. Tidak cuma satu. Barulah ia menampakkan wajahnya. Lamat-lambat.

Itupun saya masih berjuang keras untuk melawan rasa rendah diri dan atau putus asa. Karena dalam puisi-puisi yang saya baca tersebut saya merasa kok begitu mudahnya para penyair itu mendedahkan perasaanya. Dalam bahasa yang karib. Unik. dan seringkali pada sudut-sudut yang tidak tersentuh.

Saya jadi yakin proses ini sebagaimanapun kerasnya saya melawan, akan masih terus berulang. Semoga. Semoga saya kuat dan umur saya panjang.