Senin, 16 Januari 2017

Jumpa 4.0

pic by @firdaushj_


Barangkali kau tak pintar
Mengajukan tawar
Sehingga betapa tinggi 
Harga serangkai buku puisi
Tapi tukang buku itu baiklah semata
Dibekalkan pulangmu nanti hanya
Racikan terbaik pujangga
Reguklah hausnya
Relakan getirnya

Barangkali aku tak mahir
Membelah riuh Batavia
Tapi memang kota 
Tengah berjenjang rintang
Jalan-jalan bergulung duri pagar 
Sehingga betapa laju desir darahku
Takkan terdengar di merah waktu 
Ruang tunggu bandaramu
Padahal jauh daripada dahulu
Kubenakkan mata penamu
Begitu pelan temani titianku
Dari labuan ke kinabalu

Pada akhirnya kita hanya 
Kaum pejalan yang berhenti sebentar 
Sebagai titik titik berbeda debar
Berkedip-kedip di atas peta buta 
Sehingga betapa sangsi
Mata angin itu sembunyi
Dan menghalau halau
Salah satu aku ataukah kau
Yang lebih dahulu mencari


Sabtu, 14 Januari 2017

serunay ~8

di antara ragu
ke ragu
seribu panah
yang kau bidik
ke segala arah
tak harus
mencapai darah

kau hanya perlu
begitu

serunay ~7


lampu pijar
tetes-tetes minyak terakhir
diarak ke puncak sumbu
sekawanan laron menyerbu
dan menanggalkan
seluruh sayapnya
gemetar

Kelinci



Seberapa banyak kelinci yang tidak muncul dari dalam topi? Tak pernah kubayangkan bulu-bulu putih tulang itu sedemikian ngilu. Saat selendang itu tuntas dikelebatkan. Menyisa serbuk-serbuk peri di udara hanya.

Muncullah sekali lagi. Tak akan ada mantra. Kembang putih yang tunas di tanganku. Daun telinganya suka sekali dengar denyar sunyi. Rumputan beku di ujung ujung dunia. 

Setelahmu waktu
Ada begitu banyak kelinci di halaman belakang, sepuluh depa di balik kenyataan. Tapi topi itu tetap hitam dan berlubang. Sedikit lebih dalam dari jantungku yang menahan-nahan. 

Selasa, 10 Januari 2017

Tersesat di Hutan

dari instagram @airpixels


Tersesat di hutan, ranting tergelap patah
Suaranya berbisik kepada bibirku hilang basah
mungkin itu suara hujan menangis sesak
lonceng yang retak, atau hati terkoyak

Sesuatu dari jauh menampak
mendalam dan rahasia bagiku, disembunyikan bumi
sebuah teriakan teredam oleh musim gugur raya
oleh kegelapan setengah terbuka dari dedaunan lembap

Terbangun dari mimpi hutannya, setangkai hazel
bernyanyi di bawah lidahku, aroma yang melayang
memanjat melalui pikiranku penuh sadar

seolah tiba-tiba akar yang telah ditinggalkan
berteriak kepadaku, tanah yang masa kecilku luruh padanya
Aku berhenti seketika, terluka oleh aroma-aroma yang berkeliaran


*Terjemah bebas dari puisi pablo neruda Lost in The Forest

Senin, 09 Januari 2017

serunay ~6


Setelah ranting terakhirnya patah
Pohon itu tak lagi punya tangan tengadah
Namun katak dan belalang yang bermusuhan
Di dua sisi tubuhnya masih saja memanjatkan doa doa

Kamis, 05 Januari 2017

serunay ~5




sebagaimana cahaya 
berpulang
sunyi menuang
gemerlap gelap

rumah kayu 
ladang ilalang
di tepian hutan