Minggu, 10 April 2016

Cinta Salah Sangka

foto dari instagram @10_ya

Suatu hari seorang jelita, sebut saja bunga
Merundukkan hati ke hadapan seorang rupawan
Kata bersambut dan bunga erat dalam genggaman
Hingga pada suatu senja dalam cahaya tak seberapa
Terlihat olehnya ada lain tergenggam mesra sang puja

Semakin hari semakin hatinya terasa sakit
Seperti ribuan semut berkerumun mencubit cubit
Hingga pada suatu pagi dalam upaya meredakannya
Diminumlah itu racun serangga


Hatiku tak Pernah Pergi

foto dari instagram @muenchmax

Hatiku tak pernah pergi
Kecuali mengambil beberapa dari
Reranting tua yang jatuh patah kepada
Tanah. Lalu bergegas pulang berjaga jaga
Jika saja kau tiba-tiba sampai dalam ketukan
Dan kemudian pergi sebab tidak juga
Daun pintu terbuka

Setelah usia penuh pucati dinding
Dan hijau melumuti daun pintu
Hatiku bahagia mendapati dirinya
Lumpuh seluruh tak bisa kemana
Tak perlu buru buru mencari kayu
Tepian hutan yang kian jauh
Terhalang halang tunggul punggur
Yang makin berpuluh penjuru

Pada detik yang keberapa saja
Senantiasa akan engkau dapati
Berpeluk sendiri hatiku tunggu
Di depan diam dan padam tungku




 






Jumat, 08 April 2016

4/7

foto dari instagram @evakosmaflores



Sebutir jeruk tidak memiliki pretensi untuk bergincu lebih kuning dari pulasan bunga matahari

Sebutir jeruk tidak memiliki kekakuan hati mangga mana lagi selain beberapa rongga untuk menyimpan rahsia

Sebutir jeruk tidak mengesampingkan cahaya ataupun gelap hanya yang mengajaknya bicara. Tidakkah kau lihat kening kenangnya kerut belaka?

Sebutir jeruk tidak menyampaikan apa apa saat berpapasan dengan peri hutan di pertigaan mimpi

Sebutir jeruk melenggang di jalannya sendiri. Senyum yang melawan pucat dan ringkih.

Sebutir jeruk akan sampai pada perasan, perasaanmu. Mungkin ada sesuatu yang kemudian kembali berbayang di benakmu.


Selasa, 05 April 2016

Sedikit

foto dari instagram @ckos5



Di depan kasir pasar kecil
ia membuka dompetnya
Menerima kembalian dan
Membalas senyuman

Di antrian stasiun
Sambil berdiri ia merampungkan
Beberapa sketsa wajah di matanya
Sampai tangannya meraih tiket
Dan bertukar pandangan

Di dalam kereta
Ia berdiri di dekat pintu
Berhimpit tubuh tubuh
Tiada ruang sedikit longgar
Kecuali sesekali menutup mata

Di mulut gang
Suara teriakan bocah-bocah
Bertingkah seperti sprinter
Gegaris kapur putih tak lurus
Dan start finish yang ditulis
Seperti terburu-buru

Di kamar jendela terbuka
Sinar matahari tinggal beberapa tetes
Tergelincir di dedua daun matanya
Esok ia akan pulang lagi naik kereta
Dan antri di loket nomor dua

Jumat, 01 April 2016

Sejak Engkau Menikah

foto dari @jesuso_ortiz




Sejak engkau menikah
Dengan lelaki yang lebih dahulu meminangmu
Aku tahu kau masih, dan atas perkenan-Nya
Terus mencintaiku. Meskipun kini ada lelaki lain
Yang senyum hingga sedihnya turut mengatur
Seberapa debar jantungmu bekerja. Dan engkau
Pun tahu sekali-sekali aku tiada berkuasa
Untuk membenci lelaki itu

Sejak engkau menikah
Tiada sehasta pun aku bersangka, bahwa duniaku
Sebegini kecilnya. Takkan jauh beranjak dari
Seputaran dua bulat matamu. Yang sampai kini
Masih saja menjadi alam raya. Padahal dulu
Di depanmu. Aku hanya berani memandangi
Ujung-ujung kerudungmu

Sejak engkau menikah
Kau semakin sering bersolek. Meskipun kini
Engaku sudah jarang lagi mematut diri
Di depan kaca, Pangeran kecilmu bersegera
Menarik lenganmu dengan rengekannya
Minta kau sebutkan lagi nama-nama segala
Si.. nga.. Tinga! Lantang lidah yang masih tunas itu
Lalu serta merta kau merimbun oleh tawa
Memantul dari cermin itu, berpendaran
Lebih kilau dari kuntumkuntum anggrek bulan

Sejak engkau menikah
Tidak banyak yang aku perbuat untukmu
Selain menyalin sajak dari buku-buku tanganmu
Telapak doa. Semoga yang Maha Pemurah
Menghadirkan lagi lelaki lain, perempuan lain
Atau bahkan kembar lelaki dan perempuan
Dari senyumanmu, sayang

Kamis, 31 Maret 2016

Jika yang Kau Pinta Seluruh Sungguh

foto dari instagram @shortstache



Aku hanya bisa mencitaimu
Sekejap - sekejap sahaja
Itupun tanpa jeda

Rabu, 30 Maret 2016

Putih

foto dari instagram @evakosmaflores




Butuh sepasang tahun yang dekat, agar
Malu malu nuraninya mahu juga, terungkap
Seperti selimut putih yang jatuh mekar
di lantai kamar

Di antara jalan raya dan saluran berita
dalam kepala saya, kuntum-kuntum Actaea
Melipat-lipat bilang dan senyum meraya
musim salju mereda

Yang bermahkota kuning
saya menanamnya
Yang seluruhnya putih
ditanam pemilik rumah sebelum saya
Yang kelopaknya lebih lebar
  milik tetangga lelaki tua sendirinya


Tiap pagi kini, telinga saya dengar
Mereka bernyanyi, hingga berpasang tahun kemudian
Saya mendengar matahari, kamar, koran, kepala
dan televisi berwarna putih, putih yang lebih lebar

Saya mencatat semua bait putih lagunya
Untuk saya bersenandung sendiri pada tahun
tahun yang ganjil, tahun yang semakin gigil
selimut yang sering tanggal

dan masa menanam yang kian dekat