Minggu, 26 Maret 2017

Beringin


Sepohon kehendak yang pepak
Centang perenang gelombang dahan
Silih bertahun daun-daun

Pintumu yang memergikan

Kesementaraan kersang ladang
Menyangsikan akar mata jumpa
Akanan repih daulah batang

Tubuhku yang menabahkan

Belanga Abraham

/1/
Apa yang memunggahkanmu
Ke atas sekoci seperapungan matahari
Sehingga arus maut sangkala
Semestinya pekayuhbimbing belaka;
Ringan jejak tak jenak Bani Ur punya
Liat daging tanah sejanabijana

Ia ialah tangan yang sama
Seribu pintu terbuka bahkan
Ketika penyembah api
Menyulut bara setelahnya

Ia ialah telapak yang sama
Seribu kayuh kampak bahkan
Kemudian penyembah berhala
Menyulut api ke sumbu nadinya

/2/
Ke dalam lengkung jantungmu
Pernah dituang racik sebukit domba
Yang segera berpindah empu
Kepada tangan asing peminta

Ke sini kau telah diseberangkan
Di mana rupa-rupa tembikar
Bertelekan penyuluh mata binar
Belanga yang menguar kapulaga
Jintan hitam hingga sarang Baklava
Namun sejatinya harum adalah cahaya
Yang dipendarkan dari bagi ke terbagian

Ke kini kau telah bersitahan
Sendiri membilang kepatahan
Ribuan tahun ganjil bergenap harap
Menyerat kalimat rindu
Seutuh tumpah wadah.
Hanya kekasih Kekasih

Dandelion


Melebihi cendayam senja
Berpulas selongsong jantung jingga
Surai gaun belianya jua
Merentak hentak bangsal-bangsal
Yang disehadiahkan suria
Bagi dada mata yang melawan mati
Oleh tebas penderas
Desir darah tak henti berpuja puji

Hingga dan hanya hingga
Zirah musuh rampak tanpa sedaya upaya
Tanpa elak menjadi budak
Bebilah kelopak dihela bak pedang disarung
Gemerincing berpenjuru
Namun tiada pernah tahu bahwa besertanya
Noktah hitam bersitahan
Akan menyala angkara dari sumbu pertahanan

Hanya duka sepanjang usia
Mampu membayar lunas tiap lelehan emas
Kemuncak segara magma
Memusnah segala rupa dalam katup tertutup
Tapi sesiapa pencari jasad
Mestilah kecewa sekali buka gerbang mahkota
Telah lesap semua penanda
Selain rerumbai yang lebih putih dari kekasih

Lebih sayap dari elang jalang
Lebih sekutu pada angin sebar pada tanah subur
Namun tiada pernah tahu bahwa
Dari benih tualang yang terbang ke sembarang itu
Amsal mati satu tumbuh seribu
Setia dijunjung ke ujung pangkal bakal perletakan
Gaun belia yang senantiasa sedia
Menghunus bilah-bilah; mekarnya kecamuk pesona

Melebihi cendayam senja...

Selasa, 28 Februari 2017

Serunay ~9



Hanya di lingkar
Pandang rembulanmu
Anak-anak kataku pemalu
Berjingkat ke belukar

Merupa-rupa cinta
Meraup-raup cahaya

Senin, 13 Februari 2017

Alam Terkembang

1.
Apa yang telah diucapkan pakis hingganya ia menggulung lidah? Bagimana ia bisa beritahu jika ada seekor burung. Tersesat dan ingin kembali. Menjadi telur. Di seberang lautan ilalang. Sering terdengar perdi-perdu memasang daun telinga. Hijau sangsi seperti riuh kala arah patah berjatuh.

2.
Apa alat musik yang tepat untuk menghibur aroma duka dari sepasang kamboja yang saling jatuh cinta? Sementara kota terus menggali lubang bagi nama-nama. Mengundak batuan yang ditanggalkan. Di mana bulan berbilang. Mengutip kata-kata yang tak sempat kuntum di ranting yang mengakar ke langit tua.

3.
Kenapa kunang-kunang itu selalu ingin berlebat dengan cahaya pada tungkai kenanga? Tidakkah bening keningnya kenang-kenang belaka? Melengang jalankan seekor kijang menyongsong api asmaradana. Kunang, Kenanga, dan Kijang tak tahu kalau mereka hidup dalam pikiran seekor kutu yang selalu gagal memanjat bulu rubah.

4.
Kapankah seruni merasai hujan telah berlebihan hingga ia perlu mekar yang lebih sabar? Agar danau yang ia cipta merenangi dan meneranginya dengan biru-biru berkah. Bulir alir yang keberat-beratan. Agar runduk parasnya mendengung jantung. Seperti bah kalimah jernih. Fasabbih. Fasabbih.

5.
Siapa lagi yang pernah dijelma kembang sepatu selain tukang pos yang gugup dengan langkah-langkah beratnya? Tujuh hari ia sampai puncak edelweis. Sekerat perkamen tua. Kepada sebutir debu delapan satu gugus tangkai 359 barat daya yang baru hinggap tadi petang. “Ya, itu kiriman dariku!” seru debu di sebelahnya.

6.
Bagaimana camar-camar mematah bunga suria di pucuk-pucuk ombak saat malam yang tak bersedikit dari rasa sakit? Mungkinkah mereka membagi menjadi sepertiga-sepertiga? Tanjung, kuala, dan labuhan. Penuh bersandar. Kepada terbang kepada mati. Supaya kelopak kelopak patah sendiri dihasak sepi?

7.
Di mana layar panggung akan kembali digelar? Setelah gemintang lentera berpecah tiada. Menjadi mekar mawar merah padamkah? Apakah langgam pamungkas yang dimainkan kembang terompet itu terdapat syair yang memberikan tanda-tanda? Wahai?

Selasa, 31 Januari 2017

William Dampier Terdampar di Achin


Tiada yang lebih sutera dari telapak Melaka. Bagi bagai sepotong gagak hitam menyanggat sayap patahnya. Di situ rumah-rumah ramah. Ditegakkan dengan tulang-tulang julang. Pepohon hutan yang senantiasa memohon pada Tuhan akan kebaikan. Akan tahun-tahun yang terseberangi. Riuh-rendahnya jalin menjalin selaik sendi. Seperti kaum yang terus mendaras kepada itu suhufi.

Kalimah-kalimah hujah yang ia keluh tiap kali subuh bergaduh. Oh betapa tanpa menara mereka menghalau hamba sahaya.

Sementara kota mereka dibuahkan kepada batang sungai yang mengakar di dada para pendulang, padagang Gujarat dan Cina, serta pemerah lembu. Di ketinggian Passange Jonca pasir-pasir emas merampai bertandan-tandan. Hanya lidah yang bertunas syahadah dan tanduk yang telah diasah mampu menyampainya. Mengambil sekadar atau tak pernah terdengar kabar pulang.

Ia cuma bercukup istirah. Menghimpun rempah dan mengurapi tubuh. Pula sesekali menebalkan kantung belacu hingga cukup baginya menderu ombak untuk kelak bertolak.

Namun bilah penyanggah terburu patah. Dari sebalik gugusan batu kembang ratu jatuh berdebam ke haribaan tanah. Menerbangkan debu-debu malam ke seluruh penjuru alam. Menebar lada hitam pada daging-daging perseteruan.

Ia hanya membasuh kaki ketika tubir sungai berubah parang panjang pembelah. Di sisi Timur Oronkey mengatur siasah dan berhunus lima ribu serdadu. Di seberangnya Shabander berpihak pada ratu baharu dan memasang meriam.

Maka duka bukan semata berlinang darah dari mata pembuluhnya. Bukan saja siang saling berselisih kerling mata-mata penyeberang. Namun jua bersebab sunyi malam kian tajam. Membelah bulan benderang. Menabuh jantung genderang.

Sungguh ia hanya sebahagian para penyinggah. Di wajahnya tiada sehelaipun bulu-bulu selembut domba.

Kampung Jati, 29-01-17

Senin, 23 Januari 2017

Jubah Semenanjung

Kincir-kincir masih saja menggulung benang-benang angin. Musim jatuh ini. Sekawanan rumput tepian mengenakan jubah semenanjung. Menyenandung senarai syair. Hijau semi dalam igau-igau kepala. Supaya langit menumpah hujan marwah. Meriah seperti pasang laut yang pernah. Memuja sepasang jejak telapak. Kemudian jadi selalu.

Tapi luputkah kau bahwa jubah itu koyak moyak belaka? Kalau saja kita bisa lebih bersabar mengurai jejalin ingin hingga pahit getir geletar ampas. Di dasar gelas itu semestinya bisa kita baca pertanyaan yang paling rahsia. Kail berumpan yang kan menyentak lelidah kesunyian kita. Lebih bahgia adanya. Tinimbang telusuk jarum yang sempat menjangkiti ujung rambut hingga sela jemari kaki. Kemudian jadi seterusnya.

Dalam jeram jejarum itu tak pernah redam. Meski tangannya selalu gagal menangkapsertakan benang-benang angin. Sehingga betapa pilu reruncing itu menyulamkan kembang-kembang kekosongan. Seperti katamu, angin hanya pantas melintas antara tepi langit dan darat. Hanya sesekali menjadi penjerat. Kemudian jadi abadi.

Di lubuk dinginmu. Jika kau masih mengingat hangat serai pada sesapan pertama itu. Mestilah kau tahu sekarang. Apa yang lebih tercerabut dari lusuh jubah semenanjung itu?