Senin, 13 Februari 2017

Alam Terkembang

1.
Apa yang telah diucapkan pakis hingganya ia menggulung lidah? Bagimana ia bisa beritahu jika ada seekor burung. Tersesat dan ingin kembali. Menjadi telur. Di seberang lautan ilalang. Sering terdengar perdi-perdu memasang daun telinga. Hijau sangsi seperti riuh kala arah patah berjatuh.

2.
Apa alat musik yang tepat untuk menghibur aroma duka dari sepasang kamboja yang saling jatuh cinta? Sementara kota terus menggali lubang bagi nama-nama. Mengundak batuan yang ditanggalkan. Di mana bulan berbilang. Mengutip kata-kata yang tak sempat kuntum di ranting yang mengakar ke langit tua.

3.
Kenapa kunang-kunang itu selalu ingin berlebat dengan cahaya pada tungkai kenanga? Tidakkah bening keningnya kenang-kenang belaka? Melengang jalankan seekor kijang menyongsong api asmaradana. Kunang, Kenanga, dan Kijang tak tahu kalau mereka hidup dalam pikiran seekor kutu yang selalu gagal memanjat bulu rubah.

4.
Kapankah seruni merasai hujan telah berlebihan hingga ia perlu mekar yang lebih sabar? Agar danau yang ia cipta merenangi dan meneranginya dengan biru-biru berkah. Bulir alir yang keberat-beratan. Agar runduk parasnya mendengung jantung. Seperti bah kalimah jernih. Fasabbih. Fasabbih.

5.
Siapa lagi yang pernah dijelma kembang sepatu selain tukang pos yang gugup dengan langkah-langkah beratnya? Tujuh hari ia sampai puncak edelweis. Sekerat perkamen tua. Kepada sebutir debu delapan satu gugus tangkai 359 barat daya yang baru hinggap tadi petang. “Ya, itu kiriman dariku!” seru debu di sebelahnya.

6.
Bagaimana camar-camar mematah bunga suria di pucuk-pucuk ombak saat malam yang tak bersedikit dari rasa sakit? Mungkinkah mereka membagi menjadi sepertiga-sepertiga? Tanjung, kuala, dan labuhan. Penuh bersandar. Kepada terbang kepada mati. Supaya kelopak kelopak patah sendiri dihasak sepi?

7.
Di mana layar panggung akan kembali digelar? Setelah gemintang lentera berpecah tiada. Menjadi mekar mawar merah padamkah? Apakah langgam pamungkas yang dimainkan kembang terompet itu terdapat syair yang memberikan tanda-tanda? Wahai?

Selasa, 31 Januari 2017

William Dampier Terdampar di Achin


Tiada yang lebih sutera dari telapak Melaka. Bagi bagai sepotong gagak hitam menyanggat sayap patahnya. Di situ rumah-rumah ramah. Ditegakkan dengan tulang-tulang julang. Pepohon hutan yang senantiasa memohon pada Tuhan akan kebaikan. Akan tahun-tahun yang terseberangi. Riuh-rendahnya jalin menjalin selaik sendi. Seperti kaum yang terus mendaras kepada itu suhufi.

Kalimah-kalimah hujah yang ia keluh tiap kali subuh bergaduh. Oh betapa tanpa menara mereka menghalau hamba sahaya.

Sementara kota mereka dibuahkan kepada batang sungai yang mengakar di dada para pendulang, padagang Gujarat dan Cina, serta pemerah lembu. Di ketinggian Passange Jonca pasir-pasir emas merampai bertandan-tandan. Hanya lidah yang bertunas syahadah dan tanduk yang telah diasah mampu menyampainya. Mengambil sekadar atau tak pernah terdengar kabar pulang.

Ia cuma bercukup istirah. Menghimpun rempah dan mengurapi tubuh. Pula sesekali menebalkan kantung belacu hingga cukup baginya menderu ombak untuk kelak bertolak.

Namun bilah penyanggah terburu patah. Dari sebalik gugusan batu kembang ratu jatuh berdebam ke haribaan tanah. Menerbangkan debu-debu malam ke seluruh penjuru alam. Menebar lada hitam pada daging-daging perseteruan.

Ia hanya membasuh kaki ketika tubir sungai berubah parang panjang pembelah. Di sisi Timur Oronkey mengatur siasah dan berhunus lima ribu serdadu. Di seberangnya Shabander berpihak pada ratu baharu dan memasang meriam.

Maka duka bukan semata berlinang darah dari mata pembuluhnya. Bukan saja siang saling berselisih kerling mata-mata penyeberang. Namun jua bersebab sunyi malam kian tajam. Membelah bulan benderang. Menabuh jantung genderang.

Sungguh ia hanya sebahagian para penyinggah. Di wajahnya tiada sehelaipun bulu-bulu selembut domba.

Kampung Jati, 29-01-17

Senin, 23 Januari 2017

Jubah Semenanjung

Kincir-kincir masih saja menggulung benang-benang angin. Musim jatuh ini. Sekawanan rumput tepian mengenakan jubah semenanjung. Menyenandung senarai syair. Hijau semi dalam igau-igau kepala. Supaya langit menumpah hujan marwah. Meriah seperti pasang laut yang pernah. Memuja sepasang jejak telapak. Kemudian jadi selalu.

Tapi luputkah kau bahwa jubah itu koyak moyak belaka? Kalau saja kita bisa lebih bersabar mengurai jejalin ingin hingga pahit getir geletar ampas. Di dasar gelas itu semestinya bisa kita baca pertanyaan yang paling rahsia. Kail berumpan yang kan menyentak lelidah kesunyian kita. Lebih bahgia adanya. Tinimbang telusuk jarum yang sempat menjangkiti ujung rambut hingga sela jemari kaki. Kemudian jadi seterusnya.

Dalam jeram jejarum itu tak pernah redam. Meski tangannya selalu gagal menangkapsertakan benang-benang angin. Sehingga betapa pilu reruncing itu menyulamkan kembang-kembang kekosongan. Seperti katamu, angin hanya pantas melintas antara tepi langit dan darat. Hanya sesekali menjadi penjerat. Kemudian jadi abadi.

Di lubuk dinginmu. Jika kau masih mengingat hangat serai pada sesapan pertama itu. Mestilah kau tahu sekarang. Apa yang lebih tercerabut dari lusuh jubah semenanjung itu?

Senin, 16 Januari 2017

Jumpa 4.0

pic by @firdaushj_


Barangkali kau tak pintar
Mengajukan tawar
Sehingga betapa tinggi 
Harga serangkai buku puisi
Tapi tukang buku itu baiklah semata
Dibekalkan pulangmu nanti hanya
Racikan terbaik pujangga
Reguklah hausnya
Relakan getirnya

Barangkali aku tak mahir
Membelah riuh Batavia
Tapi memang kota 
Tengah berjenjang rintang
Jalan-jalan bergulung duri pagar 
Sehingga betapa laju desir darahku
Takkan terdengar di merah waktu 
Ruang tunggu bandaramu
Padahal jauh daripada dahulu
Kubenakkan mata penamu
Begitu pelan temani titianku
Dari labuan ke kinabalu

Pada akhirnya kita hanya 
Kaum pejalan yang berhenti sebentar 
Sebagai titik titik berbeda debar
Berkedip-kedip di atas peta buta 
Sehingga betapa sangsi
Mata angin itu sembunyi
Dan menghalau halau
Salah satu aku ataukah kau
Yang lebih dahulu mencari


Sabtu, 14 Januari 2017

serunay ~8

di antara ragu
ke ragu
seribu panah
yang kau bidik
ke segala arah
tak harus
mencapai darah

kau hanya perlu
begitu

serunay ~7


lampu pijar
tetes-tetes minyak terakhir
diarak ke puncak sumbu
sekawanan laron menyerbu
dan menanggalkan
seluruh sayapnya
gemetar

Kelinci



Seberapa banyak kelinci yang tidak muncul dari dalam topi? Tak pernah kubayangkan bulu-bulu putih tulang itu sedemikian ngilu. Saat selendang itu tuntas dikelebatkan. Menyisa serbuk-serbuk peri di udara hanya.

Muncullah sekali lagi. Tak akan ada mantra. Kembang putih yang tunas di tanganku. Daun telinganya suka sekali dengar denyar sunyi. Rumputan beku di ujung ujung dunia. 

Setelahmu waktu
Ada begitu banyak kelinci di halaman belakang, sepuluh depa di balik kenyataan. Tapi topi itu tetap hitam dan berlubang. Sedikit lebih dalam dari jantungku yang menahan-nahan.