Kamis, 30 Oktober 2014

Mata Angin




Di selatan beranda redup angin
Dahulu kata mengutarakan kita
Bincang bincang kecil yang tak hanya
Sekali sekala

Di timur barat kita kini bertemu ingin
Ianya menjadi bintang bintang kecil
Berjeda di langit kerlap dan kerlip
Sekali suka sekala duka

Senin, 06 Januari 2014

Selalu Jadi Puisi

seno

Seorang teman masa kecil kembali datang. Bertubuh setinggi pinggang. Tangannya tak menjangkau ujung kemeja. Panjang kali memanjang. Lengan yang selalu basah. Ujungnya berpilin asin dan berbau biru. Beberapa lumba-lumba berpacu. Membelah kesedihan yang pura-pura mengapung sebagai ganggang. Udara mekar. Jadi kiambang awan. Di bawah keteduhdukaannya para penduduk menyeberangi kali. Seorang perempuan remaja menahan telapak kakinya yang telanjang lebih lama. Kali bening itu tetap mengalir selayak biasa. Seolah tak terjadi apa-apa.

Dengan tubuh sekecil itu aku bebas terjun ke pangkal lengannya tanpa takut tenggelam. Lalu ia akan ikut menyelam. Ia memang suka menyelami dirinya sendiri. Tanpa bernafaspun takkan pernah takut mati.

Aku. Kami. Sepasang jarum jeram. Berkelindan dari hulu hingga muara tanjung harapan. Berdeburdebaran hilir mudik tiada berhenti. Berlumba dengan suara. Hingga suara lelah payah dan mati. Hingga kami tak bisa mendengarkan telinga sendiri.

Malamnya kami bermimpi di peraduan masing-masing. Sampai pagi menjelang. Kali itu tidak sebening lagi. Di salah satu tepi. Seorang perempuan remaja menahan telapak kakinya yang telanjang lebih lama. Ragu-ragu menyeberanginya.

Selasa, 17 Desember 2013

Romansa Perjalanan



perjalanan ini
terasa sangat menyedihkan
sayang kau tak duduk
di sampingku
kawan

Bila sendiri adalah bunyi. Maka ia akan menjadi gelegar saat kita melakukan perjalanan, sendirian. Terutama bepergian menuju tempat yang jauh dan ditempuh dalam rentang waktu lebih dari beberapa putaran jam. 

Saat di stasiun, terminal, ataupun pelabuhan kita berpapasan dengan puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang. Wajah-wajah. Tergesa. Muram. Sumringah. Lelah. Cuek. Jutek. Dan lain sebagainya. Terkadang saya iseng saja menebak-nebak suasana hati dari gurat wajah yang tampak. Apakah mereka sedang menempuh perjalanan untuk sebuah pertemuan, atau justru baru saja merasakan beratnya perpisahan dengan yang ditinggalkan, atau bahkan keduanya?

Dan biasanya rasa empatik itu serta merta memantul ke diri. Sedang di posisi manakah saya? Apa yang akan saya tuju? Apa yang sedang atau sudah saya tinggalkan? Kenapa ada jarak? Kenapa kita tidak bisa mempertahankan semua? Sebenarnya apa yang benar-benar saya punyai secara hakiki? Kenapa mesti ada duka yang mengiringi bahagia dan sebaliknya? Hingga... Kenapa dunia terasa begitu fana?

Perjalanan memang kerap kali memelantingkan saya pada perasaan melankolis yang begitu jauh. Yang pada hari-hari biasa perasaan itu saya tepis mentah-mentah. Tapi alih-alih diserbu perasaan gundah justru perjalanan adalah saat saya bermesra dengan diri sendiri. Meski diselingi dengan deru dan suara lalu lalang kendaraan, suara-suara dari dalam diri justru menjadi lantang terdengar.

Dalam hal ini, saya tidak sanggup membantah saran sahabat saya Seno @menghunjam yang lebih suka bepergian sendirian. Dan ternyata memang beda sekali rasanya. Bahkan meskipun dibandingkan dengan perjalanan yang hanya ditemani oleh satu orang. Berpergi sendiri akan jauh lebih banyak membawa perenugan.

Tidak hanya diri yang berbicara tentang perasaan-perasaan terdalamnya, namun langit, gunung, sawah, rumah hingga tiang-tiang listrik yang berlarian juga membisikkan hatinya. Bertanya perihal keeksistensian. Bertanya tentang apakah arti keberadaanya.

Perenungan dibutuhkan jiwa sebagaimana raga membutuhkan makanan. Jika diri telah menjadi sedemikian peka, maka duduk di dekat jendela rumah pun cukup untuk membangkitkan 'suara-suara'. Seperti Tagore. Penyair legendaris yang menerima nobel sastra tahun 1913 ini telah berujar dalam salah satu baitnya yang lembut. 

Aku duduk di jendelaku pagi ini
di mana dunia seperti seorang lewat
yang berhenti sejenak
mengangguk kepadaku
dan pergi





Minggu, 15 Desember 2013

Siapa Orang Tua Otak?



Tempo hari saya diminta untuk mengajar ekstrakurikuler sastra (cerpen dan puisi) di SMP N 7 Jambi. Sekolah yang –katanya- menjadi salah satu sekolah favorit di ibu kota propinsi, yang terkenal dengan sungainya yang terpanjang di Pulau Sumatera, Sungai Batanghari. Ada banyak sekali pelajaran yang saya ambil selama saya mengajar. Ya, saya malah merasa tidak sedang memberi, tapi justru sedang menduplikasi semangat, kepolosan, antusiasme, bahkan daya imajinasi anak-anak murid ke dalam diri saya.

Salah satunya adalah saat suatu hari saya memberikan materi puisi. Sebagai pemanasan saya mengguanakan metode inisiatif saya sendiri. Sebut saja ‘bertanyalah sebanyak-banyaknya’. Metode ini terinspirasi sepenuhya oleh Kitab Pertanyaan karya seorang penyair peraih nobel sastra Pablo Neruda.

Selama kurang lebih sepuluh menit saya memberikan kesempatan kepada para murid untuk sebebas-bebasnya menuliskan pertanyaan tentang –secara random akhirnya kami sepakat memilih- Otak. Berikut saya uraikan beberapa pertanyaan itu.

Rabu, 11 Desember 2013

"Save Me!"



Blogger Nusantara #BN2013

"Sebelum kita melangkah terlalu jauh, aku ingin kamu tahu kalau.... " halah apa ini. Intinya begini sahabat sekalian. Perlu saya tegaskan di awal. Barangkali yang akan saya uraikan di bawah ini sifatnya semacam protes. Barangkali nada-nadanya akan cenderung negatif atau bahkan malah provokatif. Tapi ini murni dari apa yang saya pandang dan rasakan. Dan saya rasa perlu untuk menyampaikannya. Entah untuk sekadar uraian pintas lalu, atau (syukur-syukur) ada yang bisa diambil pelajaran. Meskipun tulisan ini akan sangat subjektif.

Sekitar satu minggu sebelum acara Blogger Nusantara digelar, atau tepatnya tanggal 23 November, saya mendapat sms dari adik saya yang kuliah di Jogja supaya jalan-jalan menjenguknya. Adik saya tidak sakit, Alhamdulillah sehat walafiat, hanya saja memang saya jarang menjenguknya. Bertemu paling hanya setahun sekali waktu lebaran. Akhirnya saya pun memutuskan akhir bulan akan ke Jogja. Dan langsung membayangkan bagaimana serunya naik kereta berikut jalan-jalan di Kota Jogja yang juga sudah lama tak saya sambangi.

Singkat cerita, pada malam berikutnya di twitter saya @moehyie (jangan difollow ya) muncul retweetan dari teman saya di bandung -seorang blogger. Yang intinya masih membuka pendaftaran untuk acara blogger nusantara. Acaranya pas dengan rencana saya ke Jogja. Tanpa berfikir panjang saya langsung mendaftar. 

Hingga beberapa hari belum ada konfirmasi. Pasrah, karena saya pun bimbang. Niatan saya menjenguk adik lha ini kok malah ditinggal buat acara lain. Tapi kemudian jeng jeng... datanglah email itu. Saya 'diterima' jadi peserta. Mewakili Jambi yang hanya 2 orang berbanding total ribuan peserta dari daerah-daerah lain. Rasanya senang bukan main, terlebih dapat rundown acara seperti ini.

Senin, 02 Desember 2013

Masih Kuat Berapa Ronde?



Terlepas dari perbedaan pendapat tentang Jogja itu Kota Panas atau enggak, saya ingin membuat pernyataan bahwa ibu kota salah satu daerah istimewa di Indonesia ini pasti dingin di malam hari, ya iyalah. Kecuali bagi mereka yang lagi duduk manis di atas kobaran tungku, atau yang sedang senyum berkilau sambil ngemut setrikaan.

Kadar kehawadinginan ini akan semakin meningkat terutama bagi para tourist domestik (baca: gelandangan yang tertunda) yang berasal dari kota-kota bertemperatur relatif tinggi dibanding daerah-daerah di sekitaran garis katulistiwa. Contoh kongkrit, saya *nyengir*, yang berasal dari Jambi. Kota yang kalau kata Aan Mansyur panasnya seperti saat berada di depan tungku penggorengan.  

Walhasil, malam di Jogja akan terasa lebih dingin ketimbang di Jambi. Untuk mengusirnya biasanya saya lempar pake panci atau diguyur air (dikira kucing). Hehe.. maksud saya minum Sekucing. Eh sekoteng. Minuman berbahan dasar jahe ini sering saya sebut sebagai ‘Semesta dalam secangkir minuman’. Ya, saya memang tidak berbakat utuk lebay. *tertunduk lesu*

Tour Guide yang Culun nan Pemalu

Anehnya, minuman yang kalau sekilas saya searching di gugel berasal dari Jawa ini tidak ada (atau saya belum tahu keberadaannya) di Jogjakarta. Saat saya tanya kepada tour guide saya yang culun nan pemalu, dengan wajah merona merah jambu air dan sedikit menunduk dia menjawab “Wedang ronde saja, Mas.”

Ya sudah. Wedang ronde saja. Meskipun pada kejadian sebenarnya justru sayalah yang punya ide beli wedang Ronde itu, dan akhirnya merepotkan dia yang berinisial PM (punai merindu?) membelah kota dan menembus kemacetan alun-alun selatan demi mendapatkan semangkuk wedang ronde dengan penampakan seperti ini.

Senin, 11 November 2013

Aduh!

Dengan bermacam dalih yang ada, beberapa bulan belakangan ini saya menjauh dari genggaman pena. Benar-benar menjauh. Draft novel masih terbengkalai. Tak ada cerpen. Tak jua ringkas cerita. Terlebih lagi sebait puisi.

Alangkah angkuh kalau saya menyebut diri ini sedang jenuh dengan semua yang berbau sastra dan turunan-turunannya. Amat kecil sekali langkah ini baru menjelajah. Dan naif sekali kalau saya bilang sudah bosan dengan semua panorama (sastra).

Namun barangkali memang inilah yang sebenarnya terjadi. Seperti ibu hamil yang sedang alergi dengan satu/beberapa jenis makanan, saya benar-benar mual dengan semua jenis puisi. Rangkaian kata paling menakjubkan sekalipun menjadi hambar. Apalagi cerpen. Apalagi novel.

Ada suara dalam diri yang sering terdengar lantang. “Saya muak dengan segala kepura-puraan, fiksi dan segala cinta-cintaan yang picisan.”

Saya turuti saja ‘ngidam’ saya itu. Menjauh dari segala bebauan sastra.

Berlalu waktu. Saya masih baik-baik saja. Dan memang baik-baik saja. Sebagai seseorang yang mengoleksi buku dengan masyoritas lembaran fiksi, saya cukup kaget juga dengan kedayatahanan ini. Sampai bait tulisan ini ditera, saya bersimpul (dengan hati yang dagdigdug) bahwa ternyata menulis bukan passion saya. Sastra bukan cinta saya. Saya bisa hidup tanpanya. Dan tetap baik-baik saja.


Ini perlu saya tegaskan karena beberapa tahun belakangan, dalam intensitas saya yang cukup tinggi (tsaelah) dengan puisi dan semacamnya, berjarak saja dengan dunia tulis menulis rasanya mengerikan bukan main, apalagi sampai harus benar-benar berlepas tangan hingga berbulan-bulan.

Tapi kini saya harus mengahadapi kenyataan itu. Apa yang saya kira telah mendarah daging dalam diri saya rupanya hanya sehirup nafas yang dengan mudahnya saya hembuskan kembali. Meski di sisi lain saya juga tidak bisa menampik kenyataan bahwa ada denyut-desir lain yang mulai menggejala. Seperti perangai perasaan-perasaan lama.

Lantas terlalu mulukkah kalau saya mengira sebentar lagi akan ada pemberontakan dari dalam diri? Dan mulai menggugat hal-hal kecil. Tulisan ini, misalnya.