Sabtu, 08 Agustus 2015

Labirin


Di hari yang panjang kami memakai topi hijau tajam, seperti muka daun tomat di dahan yang paling pendek. Bayangannya menyentuh langkah kaki-kaki kami yang kecil tak berkasut. Hari tak berusai. Hingga kami bisa melakukan semua kegiatan. Termasuk mengulangi hari itu dengan panjang yang bahkan lebih panjang. Di hari yang kami ulangi itu. Langkah kaki kami semakin kecil hingga tumbuh kaus kaki beraroma lumut. Selama hari kami bernyanyi. Menyambung lagu-lagu yang panjang. Begitu panjang lagu itu sehingga kami bisa menyelipkan puisi-puisi. Ketukan-ketukan lambat. Dengannya kami bisa bernafas panjang. Cukup panjang untuk kami berlari tanpa kehabisan nafas. Dengan mengurangi lari kami punya lebih banyak nafas. Semakin pelan semakin banyak nafas. Sampai kami merasa begitu cemas akan kelebihan nafas. Dengan banyak nafas kami memakai topi yang lebih hijau dan berjalan di hari yang lebih panjang. Hari yang begitu panjang. Hingga kami bisa melakukan semua kegiatan. Termasuk mengulangi hari itu dengan panjang yang bahkan lebih panjang...  

Rabu, 29 Juli 2015

Perjalanan ke Selatan

Diam-diam masih saja kuikuti
Perjalanan ke Selatan
Menyibak pagi yang layu
Dan senja yang jatuh kelopaknya
Jejak-jejak seperti kening bayi yang dingin
Lembut meninggalkan masa harumannya
Menanggalkan bekal-bekal
Dari tubuh yang semakin berat hasrat
Semakin lambat seoknya
Saat matahari mengencangkan teriknya
Peluh di lengan pergi duluan
Menuju tiada

Kamis, 30 Oktober 2014

Mata Angin




Di selatan beranda redup angin
Dahulu kata mengutarakan kita
Bincang bincang kecil yang tak hanya
Sekali sekala

Di timur barat kita kini bertemu ingin
Ianya menjadi bintang bintang kecil
Berjeda di langit kerlap dan kerlip
Sekali suka sekala duka

Senin, 06 Januari 2014

Selalu Jadi Puisi

seno

Seorang teman masa kecil kembali datang. Bertubuh setinggi pinggang. Tangannya tak menjangkau ujung kemeja. Panjang kali memanjang. Lengan yang selalu basah. Ujungnya berpilin asin dan berbau biru. Beberapa lumba-lumba berpacu. Membelah kesedihan yang pura-pura mengapung sebagai ganggang. Udara mekar. Jadi kiambang awan. Di bawah keteduhdukaannya para penduduk menyeberangi kali. Seorang perempuan remaja menahan telapak kakinya yang telanjang lebih lama. Kali bening itu tetap mengalir selayak biasa. Seolah tak terjadi apa-apa.

Dengan tubuh sekecil itu aku bebas terjun ke pangkal lengannya tanpa takut tenggelam. Lalu ia akan ikut menyelam. Ia memang suka menyelami dirinya sendiri. Tanpa bernafaspun takkan pernah takut mati.

Aku. Kami. Sepasang jarum jeram. Berkelindan dari hulu hingga muara tanjung harapan. Berdeburdebaran hilir mudik tiada berhenti. Berlumba dengan suara. Hingga suara lelah payah dan mati. Hingga kami tak bisa mendengarkan telinga sendiri.

Malamnya kami bermimpi di peraduan masing-masing. Sampai pagi menjelang. Kali itu tidak sebening lagi. Di salah satu tepi. Seorang perempuan remaja menahan telapak kakinya yang telanjang lebih lama. Ragu-ragu menyeberanginya.

Selasa, 17 Desember 2013

Romansa Perjalanan



perjalanan ini
terasa sangat menyedihkan
sayang kau tak duduk
di sampingku
kawan

Bila sendiri adalah bunyi. Maka ia akan menjadi gelegar saat kita melakukan perjalanan, sendirian. Terutama bepergian menuju tempat yang jauh dan ditempuh dalam rentang waktu lebih dari beberapa putaran jam. 

Saat di stasiun, terminal, ataupun pelabuhan kita berpapasan dengan puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan orang. Wajah-wajah. Tergesa. Muram. Sumringah. Lelah. Cuek. Jutek. Dan lain sebagainya. Terkadang saya iseng saja menebak-nebak suasana hati dari gurat wajah yang tampak. Apakah mereka sedang menempuh perjalanan untuk sebuah pertemuan, atau justru baru saja merasakan beratnya perpisahan dengan yang ditinggalkan, atau bahkan keduanya?

Dan biasanya rasa empatik itu serta merta memantul ke diri. Sedang di posisi manakah saya? Apa yang akan saya tuju? Apa yang sedang atau sudah saya tinggalkan? Kenapa ada jarak? Kenapa kita tidak bisa mempertahankan semua? Sebenarnya apa yang benar-benar saya punyai secara hakiki? Kenapa mesti ada duka yang mengiringi bahagia dan sebaliknya? Hingga... Kenapa dunia terasa begitu fana?

Perjalanan memang kerap kali memelantingkan saya pada perasaan melankolis yang begitu jauh. Yang pada hari-hari biasa perasaan itu saya tepis mentah-mentah. Tapi alih-alih diserbu perasaan gundah justru perjalanan adalah saat saya bermesra dengan diri sendiri. Meski diselingi dengan deru dan suara lalu lalang kendaraan, suara-suara dari dalam diri justru menjadi lantang terdengar.

Dalam hal ini, saya tidak sanggup membantah saran sahabat saya Seno @menghunjam yang lebih suka bepergian sendirian. Dan ternyata memang beda sekali rasanya. Bahkan meskipun dibandingkan dengan perjalanan yang hanya ditemani oleh satu orang. Berpergi sendiri akan jauh lebih banyak membawa perenugan.

Tidak hanya diri yang berbicara tentang perasaan-perasaan terdalamnya, namun langit, gunung, sawah, rumah hingga tiang-tiang listrik yang berlarian juga membisikkan hatinya. Bertanya perihal keeksistensian. Bertanya tentang apakah arti keberadaanya.

Perenungan dibutuhkan jiwa sebagaimana raga membutuhkan makanan. Jika diri telah menjadi sedemikian peka, maka duduk di dekat jendela rumah pun cukup untuk membangkitkan 'suara-suara'. Seperti Tagore. Penyair legendaris yang menerima nobel sastra tahun 1913 ini telah berujar dalam salah satu baitnya yang lembut. 

Aku duduk di jendelaku pagi ini
di mana dunia seperti seorang lewat
yang berhenti sejenak
mengangguk kepadaku
dan pergi





Minggu, 15 Desember 2013

Siapa Orang Tua Otak?



Tempo hari saya diminta untuk mengajar ekstrakurikuler sastra (cerpen dan puisi) di SMP N 7 Jambi. Sekolah yang –katanya- menjadi salah satu sekolah favorit di ibu kota propinsi, yang terkenal dengan sungainya yang terpanjang di Pulau Sumatera, Sungai Batanghari. Ada banyak sekali pelajaran yang saya ambil selama saya mengajar. Ya, saya malah merasa tidak sedang memberi, tapi justru sedang menduplikasi semangat, kepolosan, antusiasme, bahkan daya imajinasi anak-anak murid ke dalam diri saya.

Salah satunya adalah saat suatu hari saya memberikan materi puisi. Sebagai pemanasan saya mengguanakan metode inisiatif saya sendiri. Sebut saja ‘bertanyalah sebanyak-banyaknya’. Metode ini terinspirasi sepenuhya oleh Kitab Pertanyaan karya seorang penyair peraih nobel sastra Pablo Neruda.

Selama kurang lebih sepuluh menit saya memberikan kesempatan kepada para murid untuk sebebas-bebasnya menuliskan pertanyaan tentang –secara random akhirnya kami sepakat memilih- Otak. Berikut saya uraikan beberapa pertanyaan itu.

Rabu, 11 Desember 2013

"Save Me!"



Blogger Nusantara #BN2013

"Sebelum kita melangkah terlalu jauh, aku ingin kamu tahu kalau.... " halah apa ini. Intinya begini sahabat sekalian. Perlu saya tegaskan di awal. Barangkali yang akan saya uraikan di bawah ini sifatnya semacam protes. Barangkali nada-nadanya akan cenderung negatif atau bahkan malah provokatif. Tapi ini murni dari apa yang saya pandang dan rasakan. Dan saya rasa perlu untuk menyampaikannya. Entah untuk sekadar uraian pintas lalu, atau (syukur-syukur) ada yang bisa diambil pelajaran. Meskipun tulisan ini akan sangat subjektif.

Sekitar satu minggu sebelum acara Blogger Nusantara digelar, atau tepatnya tanggal 23 November, saya mendapat sms dari adik saya yang kuliah di Jogja supaya jalan-jalan menjenguknya. Adik saya tidak sakit, Alhamdulillah sehat walafiat, hanya saja memang saya jarang menjenguknya. Bertemu paling hanya setahun sekali waktu lebaran. Akhirnya saya pun memutuskan akhir bulan akan ke Jogja. Dan langsung membayangkan bagaimana serunya naik kereta berikut jalan-jalan di Kota Jogja yang juga sudah lama tak saya sambangi.

Singkat cerita, pada malam berikutnya di twitter saya @moehyie (jangan difollow ya) muncul retweetan dari teman saya di bandung -seorang blogger. Yang intinya masih membuka pendaftaran untuk acara blogger nusantara. Acaranya pas dengan rencana saya ke Jogja. Tanpa berfikir panjang saya langsung mendaftar. 

Hingga beberapa hari belum ada konfirmasi. Pasrah, karena saya pun bimbang. Niatan saya menjenguk adik lha ini kok malah ditinggal buat acara lain. Tapi kemudian jeng jeng... datanglah email itu. Saya 'diterima' jadi peserta. Mewakili Jambi yang hanya 2 orang berbanding total ribuan peserta dari daerah-daerah lain. Rasanya senang bukan main, terlebih dapat rundown acara seperti ini.