Senin, 21 Januari 2013

Perempuan Penyair

foto dari sini



Kadang-kadang aku bisa lebih meleleh dari sebatang lilin yang menyala. Seperti kemarin.  Aku berjumpa dengan seorang perempuan dalam sebuah acara bedah novel karya salah satu teman. Wajahnya bulat, berkulit putih dan bermata sipit.

Sebenarnya pertemuanku dengannya sudah bisa kuduga. Begitupun kata-kata yang akan ia ucapkan. Karena pada beberapa pertemuan sebelum ini telingaku telah mendengarnya. Tapi tetap saja setiap perempuan penyair itu melafalkan rerangkai kata-kata itu seketika ada yang berkobar dalam diriku, membakar tubuh beserta semua simpul-simpul persendian, hingga aku benar-benar meleleh. Tak berdaya.

“Menulislah dengan mata batin.” Tuturnya. 

Senin, 07 Januari 2013

Punai Merindu di Wordpress




Tahun 2012 sepertinya bukan tahunnya punai merindu. Tidak banyak postingan yang terpajang di etalase blog spot ini. Hemm... ini sih karena masalah internal sendiri, hehe.... *tamparin admin satu-satu*

Namun begitu ada perubahan yang cukup signifikan (tsaelaahhhh) dari gelaran duo si punai ini, yaitu hadirnya punai merindu wordpress.  www.punaimerindu.wordpress.com Postingan di blog tersebut sudah muali dari Oktober lalu. Berisi sejumlah sajak terpilih (halahhh) dari  blog ini dan beberapa sajak yang benar-benar masih baru dan belum pernah di-publish di tempat mana pun!

Hanya sajak, dan memang hanya saja yang akan berada di blog tersebut nantinya. Sementara itu blog ini akan mencair dan mengalir menuju takdirnya sebagai blog yang memuat lautan kata dengan berbagai keanekaragaman hayati –dalam hal ini jenis tulisan- yang ada di dalamnya (aminnnn), dan siapa pun bisa menyelam ataupun sekadar mengapung-apung di permukaannya.

Ada beberapa tema yang tengah dituliskan untuk ditampilkan. Mulai dari review buku sampai dengan kritik puisi. Tapi tak seserius itu pula lah. Di antara dua tema itu akan banyak hal-hal remeh hingga kenarsiscuihan para admin. (Huuuu...)

Terakhir, baik blog ini maupun worpress keduanya merupakan upaya. Dan sampai kapan pun akan tetap sebagai upaya. Kerja-kerja tangan dan fikiran untuk terus mengenal diri sendiri, dan mengabdikan diri melalu tulisan.

Karena menulis ya menulis.

NB: kami senang sekali bila ada yang ingin bersilaturahim. moehyie@yahoo.com  tommypandiangan@yahoo.com

Pohon di Dalam Diri

Kadang-kadang kau merasa di dalam dirimu tumbuh pohon rambutan yang sangat lebat. Daun-daun. Merah buah seperti bola-bola lampu yang menyala. Sedemikian rimbunnya sehingga tak ada cahaya yang mampu menerobos dan melunaskan pandang bagi mata yang meihat permukaan batang tubuh pengertianmu.

Rimbun yang menimbun hari-hari. Keberatannya memaksa ranting-rantingmu mengkhawatirkan kepatahannya. Gelisah sepanjang malam, siang dan petang. Betapa buah-buah pemikiranmu itu tak jatuh-jatuh jua.

Maka sesekali kudengar ia mencuri doa. Lalu memejamkan mata.

Dibayangkannya anak-anak bergerombol membawa galah pena dan karung-karung kertas yang tak terkira bilangannya. Anak-anak yang badung dan tak takut dengan apa-apa itu mulai memukuli dirimu, mengaitkan ujung galah  seperti tangan kapten hook itu lalu menariknya dengan keras.

Daun dan bebuahan jatuh lalu dimasukkan ke dalam karung-karung kertas.

Mereka memanggulnya pergi meniggalkan rerantingmu yang meringan.

Tapi kau masih saja mencemaskan kemana mereka membawa buah-buah pikiranmu pergi, sampai-sampai tidak peduli bahwa pohon itu benar-benar tumbuh di dalam dirimu.

Jumat, 19 Oktober 2012

Seruni



Sebab cinta yang baik
Tidak jatuh di mekar bunga
Tak pula pada rekah luka
Cinta yang baik
Tumbuh di tubuh
Yang memiliki keduanya

Maka di lembah cintamu
Aku memohon
Menghunjamkan akar kerinduan
Sulur-sulur kehidupan
Aku tak ingin ke mana-mana
Aku hanya ingin kebahagiaanmu saja



Foto disunting dari sini

Kamis, 04 Oktober 2012

Angan



Adalah tangan-tangan 
Yang terhulur jauh
Di mana kita bisa saling bersentuh
Bersidekap
Dan berseduka

Kerinduan


Kerinduan
Selalu berada 
Di kerendahan kembang kenangan
Pucat berserak-serak
Di atas merah tanah

Senin, 01 Oktober 2012

Sajak yang Tak Letih


Sajak yang tak letih menyedih
Seorang jelata cinta 
Yang jatuh hatinya 
Pada jauh cantik jelita

-

Sajak yang tak letih menagih
Seorang jelata kata 
Yang mengais huruf makan malamnya
Di serpihan tubuhnya sendiri