![]() |
| foto dari sini |
Kadang-kadang aku bisa lebih meleleh dari sebatang lilin
yang menyala. Seperti kemarin. Aku
berjumpa dengan seorang perempuan dalam sebuah acara bedah novel karya salah
satu teman. Wajahnya bulat, berkulit putih dan bermata sipit.
Sebenarnya pertemuanku dengannya sudah bisa kuduga. Begitupun
kata-kata yang akan ia ucapkan. Karena pada beberapa pertemuan sebelum ini telingaku
telah mendengarnya. Tapi tetap saja setiap perempuan penyair itu melafalkan
rerangkai kata-kata itu seketika ada yang berkobar dalam diriku, membakar tubuh
beserta semua simpul-simpul persendian, hingga aku benar-benar meleleh. Tak berdaya.
“Menulislah dengan mata batin.” Tuturnya.

