Suratmu baru saja sampai. Dari tanggal yang
tertera di dalamnya dapat kuhitung bahwa surat ini telah menempuh masa yang
cukup lama. Hampir 110 tahun. Maafkan aku... maafkan aku yang terlalu lama
menyembunyikan alamat. Menutup kehadiranku di negeri kata dan pena. Melanglang
buana. Memusafirkan diri.
Sebagaimana lazimnya manusia, aku juga
berkehendak atas kebahagiaan. Menjinakkan hatiku yang buas dengan daging-daging
suara yang telah diresapi oleh aneka rempah-rempah perhatian. Dari
negeri-negeri yang jauh. Yang begitu susah payah aku tempuh.
Namun nyatanya jiwaku makin buas. Makin tak
pernah merasa puas.
Kau mencari-cari ke luar dirimu, dan itulah
apa yang semestinya kau hindari sekarang. Tak seorang pun yang bisa menasehati
atau membantumu. Tak seorang pun. Hanya ada satu hal yang harus kau lakukan.
Pergilah ke dalam dirimu sendiri. Temukan alasan yang mendorongmu menulis; lihat
apakah alasan itu telah mengembangkan akar-akarnya ke dalam hatimu yang
terdalam; akui pada dirimu sendiri apakah kau rela mati bila dilarang menulis.
Dan lebih dari semua itu; tanya pada dirimu sendiri di jam paling hening dari
malam-malammu; haruskah aku menulis?
Kadang-kadang aku bisa lebih meleleh dari sebatang lilin
yang menyala. Seperti kemarin. Aku
berjumpa dengan seorang perempuan dalam sebuah acara bedah novel karya salah
satu teman. Wajahnya bulat, berkulit putih dan bermata sipit.
Sebenarnya pertemuanku dengannya sudah bisa kuduga. Begitupun
kata-kata yang akan ia ucapkan. Karena pada beberapa pertemuan sebelum ini telingaku
telah mendengarnya. Tapi tetap saja setiap perempuan penyair itu melafalkan
rerangkai kata-kata itu seketika ada yang berkobar dalam diriku, membakar tubuh
beserta semua simpul-simpul persendian, hingga aku benar-benar meleleh. Tak berdaya.
Pagi, hari keempat lebaran. Jalanan masih terlalu lengang untuk ukuran hari-hari biasa. Kudorong kaca helm sedikit ke atas. Angin-angin kencang berebut. Pecah menabrak-nabrak wajah. Perlahan kukendurkan sedikit tarikan gas. Sepertinya saya terlalu bersemangat.
Setelah menghampiri seorang yang telah menjadi biang kerok kebut-kebutan saya pagi ini (biasanya pagi di hari lebaran begini saya paling malas keluar rumah), kami langsung berangkat menuju kediaman seseorang yang kata teman saya ini sungguh hebat. Hemm...sebegitukah?
975 km dalam 28 jam
Seperti tak sampai-sampai. Mungkin karena tempatnya lebih jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya. Dari kota, melewati Jembatan Batanghari yang harus begitu panjang untuk bisa mengalahkan lebarnya sungai utama di Jambi ini. Lalu menyusuri jalan arah Sengeti yang di beberapa bagiannya bersisihan dengan tepian Sungai Batanghari.
Dengan langkah
gugup kami memasuki pintu utama gedung hotel, disambut pintu kaca otomatis yang
baik hati membuka dirinya untuk kami. Seketika langkah kami mencium ubin licin
gemerlap sebuah lobi megah dengan tangga berkarpet merah, berulin-ulin seperti
ular menggapai lantai diatasnya. Suasana ruangan nan mewah ditambah hawa
pendingin ruangan menusuk membuat kami semakin gugup.
Sejurus kemudian
kami melangkah menuju meja resepsionis, bermaksud menanyakan sebuah nama yang yang
kami cari. Pria resepsionis menyambut ramah dan menanyakan urusan apa yang bisa
di bantu. Setelah kami utarakan maksud, telunjuknya pun langsung menyusuri sebuah
buku tamu lalu berbicara dengan seseorang diujung telepon.
“Ya, sebentar
lagi bapaknya turun!”
“Makasih ya!”
kami membarter senyum.
Dengan dada yang
makin degup, kami mendudukkan gugup di sofa merah. Suara riuh rendah
terdengar dari beberapa orang paruh baya yang sedang asyik melingkari
beberapa buah meja kecil. Aku memperhatikan cantiknya lampu kristal lobi hotel yang menggantung redup.
“Sudah, jujur
saja, aku tau guru macam dia bukan seleramu, kan?!”
“Tidak.”
“Memang, sih,
kalau dia jadi guru kan gara-garanya kualat sama gurunya, tapi...”
“Kualat?”
“Loh dia tak
pernah cerita sama kamu?”
“Tidak, Kakak kok
tahu?”
“Ya.. aku sih
juga cuma curi dengar, waktu itu dia cerita sama temannya yang suka ke sini
pakai motor tiger merah itu, kalau dia jadi guru ekonomi gara-gara pernah bikin
nangis guru ekonominya sewaktu sma.”
“Haha.. ngarang
kamu Kak.”
“Eh BENERAN
INI!!”
“Sssstttt!!!!
Jangan keras-keras bisa bangun dia nanti.”
“Suara kita tak
akan terdengar dari kamar.”
“Tadi, dia pulang
hampir larut malam, saking letihnya sampai tertidur di sofa, makanya
pelan-pelan saja.”
“Larut malam? Kau
tak curiga?.”
“Aku kan juga
ikut dia tadi. Seminggu ini banyak guru bimbel yang tidak masuk makanya dia
terpaksa menggantikan, padahal ia masih harus menyelesaikan tulisan-tulisannya.
”
“Kalau memang
bukan tugas dia, kenapa harus repot menggantikan!”
“Kau tahu sendiri
Kak, dia itu..”
“Tak tegaan,
kalem, baik! Begitu maksudmu? Ah, heran kakak, padahal bapaknya orang batak,
kok dia tidak ada tegas-tegasnya sama sekali.”
“Ah, tak ada
hubungannya sama sekali, lagi pula dia lebih mirip dengan ibunya yang orang
sunda.”
“Oh ya, kapan
kita akan pindah ke rumah yang di Palembang?”
“Tidak, dia
bilang sudah betah di Jambi sini, dan akan merintis usaha bersama
teman-temannya, yah sama-sama untuk membangun jambi katanya.”
Tiba-tiba
terdengar suara orang terbangun.
“Kau cepat
kembali sana!.”
Aku melayang,
lantas melesat cepat memasuki tubuhku lagi yang masih terikat erat di
tangannya. Beruntunglah dia belum sadar betul. Sampai ditubuhku, selain aku
sibuk berbicara sendiri dengan suara lirih kudengar pula denyut nadi di
pergelangan tangan kirinya.
Ia menatapku
sambil menyipitkan matanya, seakan menatapku dengan penuh curiga.
“Pukul 3 dini
hari.” Aku tersenyum. Namun tiba-tiba ia melepaskan ikatanku, lalu pergi ke
belakang.
Sebentar kemudian
dia sudah kembali segar di depan laptopnya di ruang tengah. Wajahnya dan
tangannya basah oleh air wudhu yang harum.
Ia mengikatku
lagi.
Sambil mengamati
kurva-kurva huruf itu berlompatan dari kepalanya ke layar laptop saat ia mulai
menulis, kulirik kakakku, jam dinding yang terpampang di seberang ruangan. Ia
tampak begitu lesu di atas sana, ditemani pigura-pigura yang terlihat seperti
bingkai sepi yang membeku.
Dalam hati aku
berucap “Kakak, aku bahagia karena lebih banyak terjaga bersamanya, aku bahagia
menjadi jam tangan seorang Tommy Pandiangan.”