Tampilkan postingan dengan label Siapa Kamu?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siapa Kamu?. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Januari 2013

Kepada Rilke



Suratmu baru saja sampai. Dari tanggal yang tertera di dalamnya dapat kuhitung bahwa surat ini telah menempuh masa yang cukup lama. Hampir 110 tahun. Maafkan aku... maafkan aku yang terlalu lama menyembunyikan alamat. Menutup kehadiranku di negeri kata dan pena. Melanglang buana. Memusafirkan diri.

Sebagaimana lazimnya manusia, aku juga berkehendak atas kebahagiaan. Menjinakkan hatiku yang buas dengan daging-daging suara yang telah diresapi oleh aneka rempah-rempah perhatian. Dari negeri-negeri yang jauh. Yang begitu susah payah aku tempuh.

Namun nyatanya jiwaku makin buas. Makin tak pernah merasa puas.

Kau mencari-cari ke luar dirimu, dan itulah apa yang semestinya kau hindari sekarang. Tak seorang pun yang bisa menasehati atau membantumu. Tak seorang pun. Hanya ada satu hal yang harus kau lakukan. Pergilah ke dalam dirimu sendiri. Temukan alasan yang mendorongmu menulis; lihat apakah alasan itu telah mengembangkan akar-akarnya ke dalam hatimu yang terdalam; akui pada dirimu sendiri apakah kau rela mati bila dilarang menulis. Dan lebih dari semua itu; tanya pada dirimu sendiri di jam paling hening dari malam-malammu; haruskah aku menulis?

Senin, 21 Januari 2013

Perempuan Penyair

foto dari sini



Kadang-kadang aku bisa lebih meleleh dari sebatang lilin yang menyala. Seperti kemarin.  Aku berjumpa dengan seorang perempuan dalam sebuah acara bedah novel karya salah satu teman. Wajahnya bulat, berkulit putih dan bermata sipit.

Sebenarnya pertemuanku dengannya sudah bisa kuduga. Begitupun kata-kata yang akan ia ucapkan. Karena pada beberapa pertemuan sebelum ini telingaku telah mendengarnya. Tapi tetap saja setiap perempuan penyair itu melafalkan rerangkai kata-kata itu seketika ada yang berkobar dalam diriku, membakar tubuh beserta semua simpul-simpul persendian, hingga aku benar-benar meleleh. Tak berdaya.

“Menulislah dengan mata batin.” Tuturnya. 

Selasa, 06 September 2011

Pemancar di Sarang Burung


“Kau pasti akan suka dengan orang ini....”

Pagi, hari keempat lebaran. Jalanan masih terlalu lengang untuk ukuran hari-hari biasa. Kudorong kaca helm sedikit ke atas. Angin-angin kencang berebut. Pecah menabrak-nabrak wajah. Perlahan kukendurkan sedikit tarikan gas. Sepertinya saya terlalu bersemangat.

Setelah menghampiri seorang yang telah menjadi biang kerok kebut-kebutan saya pagi ini (biasanya pagi di hari lebaran begini saya paling malas keluar rumah), kami langsung berangkat menuju kediaman seseorang yang kata teman saya ini sungguh hebat. Hemm...sebegitukah?

975 km dalam 28 jam

Seperti tak sampai-sampai. Mungkin karena tempatnya lebih jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya. Dari kota, melewati Jembatan Batanghari yang harus begitu panjang untuk bisa mengalahkan lebarnya sungai utama di Jambi ini. Lalu menyusuri jalan arah Sengeti yang di beberapa bagiannya bersisihan dengan tepian Sungai Batanghari.

Senin, 08 November 2010

SAMUDERA DI LOBI HOTEL

Dengan langkah gugup kami memasuki pintu utama gedung hotel, disambut pintu kaca otomatis yang baik hati membuka dirinya untuk kami. Seketika langkah kami mencium ubin licin gemerlap sebuah lobi megah dengan tangga berkarpet merah, berulin-ulin seperti ular menggapai lantai diatasnya. Suasana ruangan nan mewah ditambah hawa pendingin ruangan menusuk membuat kami semakin gugup.
Sejurus kemudian kami melangkah menuju meja resepsionis, bermaksud menanyakan sebuah nama yang yang kami cari. Pria resepsionis menyambut ramah dan menanyakan urusan apa yang bisa di bantu. Setelah kami utarakan maksud, telunjuknya pun langsung menyusuri sebuah buku tamu lalu berbicara dengan seseorang diujung telepon.
“Ya, sebentar lagi bapaknya turun!”
“Makasih ya!” kami membarter senyum.
Dengan dada yang makin degup, kami mendudukkan gugup di sofa merah. Suara riuh rendah terdengar dari beberapa orang paruh baya yang sedang asyik melingkari beberapa buah meja kecil. Aku memperhatikan cantiknya lampu kristal  lobi hotel yang menggantung redup.

Jumat, 24 September 2010

Perbincangan Waktu


“Apa kau tak lelah hidup terikat dengannya.”
“Entahlah.”
“Sudah, jujur saja, aku tau guru macam dia bukan seleramu, kan?!”
“Tidak.”
“Memang, sih, kalau dia jadi guru kan gara-garanya kualat sama gurunya, tapi...”
“Kualat?”
“Loh dia tak pernah cerita sama kamu?”
“Tidak, Kakak kok tahu?”
“Ya.. aku sih juga cuma curi dengar, waktu itu dia cerita sama temannya yang suka ke sini pakai motor tiger merah itu, kalau dia jadi guru ekonomi gara-gara pernah bikin nangis guru ekonominya sewaktu sma.”
“Haha.. ngarang kamu Kak.”
“Eh BENERAN INI!!”
“Sssstttt!!!! Jangan keras-keras bisa bangun dia nanti.”
“Suara kita tak akan terdengar dari kamar.”
“Tadi, dia pulang hampir larut malam, saking letihnya sampai tertidur di sofa, makanya pelan-pelan saja.”
“Larut malam? Kau tak curiga?.”
“Aku kan juga ikut dia tadi. Seminggu ini banyak guru bimbel yang tidak masuk makanya dia terpaksa menggantikan, padahal ia masih harus menyelesaikan tulisan-tulisannya. ”
“Kalau memang bukan tugas dia, kenapa harus repot menggantikan!”
“Kau tahu sendiri Kak, dia itu..”
“Tak tegaan, kalem, baik! Begitu maksudmu? Ah, heran kakak, padahal bapaknya orang batak, kok dia tidak ada tegas-tegasnya sama sekali.”
“Ah, tak ada hubungannya sama sekali, lagi pula dia lebih mirip dengan ibunya yang orang sunda.”
“Oh ya, kapan kita akan pindah ke rumah yang di Palembang?”
“Tidak, dia bilang sudah betah di Jambi sini, dan akan merintis usaha bersama teman-temannya, yah sama-sama untuk membangun jambi katanya.”
Tiba-tiba terdengar suara orang terbangun.
“Kau cepat kembali sana!.”
Aku melayang, lantas melesat cepat memasuki tubuhku lagi yang masih terikat erat di tangannya. Beruntunglah dia belum sadar betul. Sampai ditubuhku, selain aku sibuk berbicara sendiri dengan suara lirih kudengar pula denyut nadi di pergelangan tangan kirinya.
Ia menatapku sambil menyipitkan matanya, seakan menatapku dengan penuh curiga.
“Pukul 3 dini hari.” Aku tersenyum. Namun tiba-tiba ia melepaskan ikatanku, lalu pergi ke belakang.
Sebentar kemudian dia sudah kembali segar di depan laptopnya di ruang tengah. Wajahnya dan tangannya basah oleh air wudhu yang harum.
Ia mengikatku lagi.
Sambil mengamati kurva-kurva huruf itu berlompatan dari kepalanya ke layar laptop saat ia mulai menulis, kulirik kakakku, jam dinding yang terpampang di seberang ruangan. Ia tampak begitu lesu di atas sana, ditemani pigura-pigura yang terlihat seperti bingkai sepi yang membeku.
Dalam hati aku berucap “Kakak, aku bahagia karena lebih banyak terjaga bersamanya, aku bahagia menjadi jam tangan seorang Tommy Pandiangan.”