Para warga mengenalinya dari keranjang bambu yang tersangkut di sebatang pohon jati yang roboh menjulur ke sungai. Tapi kami melihatnya bahkan pada detik pertama ia terjatuh. Kerumunan warga semakin banyak. Namun semua tak dapat berbuat apa-apa. Kecuali kamu.
*****
“Hore!!! Ayo kita buat jam matahari!” teriakmu waktu itu. Kau letakkan sebuah batu di pinggir sungai lalu kau berjalan mundur di jalan setapak hingga bayangan kepalamu tepat menyundul batu itu. Lalu kau mulai menjengkalkan jarak bayangan dengan telapak kaki sambil berhitung “Satu, dua, tiga, empat, enam...”
“Lima, Pur!” potongku. Lalu kau dengan gugup mengulanginya lagi. Mengulangi semuanya. Mulai dari memindahkan batu (ini kau lakukan seolah ketika salah hitung maka batu itu sudah tak suci lagi pada posisi itu dan harus digeser) lalu mundur mengepaskan bayanganmu dan mulai berhitung lagi.
Aku selalu tak dapat menahan senyum, karena kau pasti akan melakukannya berkali-kali, entah terlewat menghitung pada angka lima, enam, tujuh dan seterusnya. Dan sepertinya pelajaran jam Matahari dari Bu Wanti membuatmu jadi suka dengan angka-angka, meskipun tak membuatmu jadi mau akrab dengan matematika.


