Jumat, 15 April 2011

Lelaki Jarum Jam Matahari

Para warga mengenalinya dari keranjang bambu yang tersangkut di sebatang pohon jati yang roboh menjulur ke sungai. Tapi kami melihatnya bahkan pada detik pertama ia terjatuh. Kerumunan warga semakin banyak. Namun semua tak dapat berbuat apa-apa. Kecuali kamu.

*****

“Hore!!! Ayo kita buat jam matahari!” teriakmu waktu itu. Kau letakkan sebuah batu di pinggir sungai lalu kau berjalan mundur di jalan setapak hingga bayangan kepalamu tepat menyundul batu itu. Lalu kau mulai menjengkalkan jarak bayangan dengan telapak kaki sambil berhitung “Satu, dua, tiga, empat, enam...”
“Lima, Pur!” potongku. Lalu kau dengan gugup mengulanginya lagi. Mengulangi semuanya. Mulai dari memindahkan batu (ini kau lakukan seolah ketika salah hitung maka batu itu sudah tak suci lagi pada posisi itu dan harus digeser) lalu mundur mengepaskan bayanganmu dan mulai berhitung lagi.

Aku selalu tak dapat menahan senyum, karena kau pasti akan melakukannya berkali-kali, entah terlewat menghitung pada angka lima, enam, tujuh dan seterusnya. Dan sepertinya pelajaran jam Matahari dari Bu Wanti membuatmu jadi suka dengan angka-angka, meskipun tak membuatmu jadi mau akrab dengan matematika.

Sayap Patah Merpati


"Lihat baik-baik ya," kata lelaki itu kepada Nia sambil mempersiapkan pertunjukan berikutnya. Sebuah kotak berbentuk kubus dengan sisi-sisi selebar telapak tangan lelaki itu ditaruh di atas sebuah meja bulat sebesar dua kali piring makan. Dengan bilah-bilah jeruji dari kayu, kotak itu tampak seperti sarang burung.

Tidak hanya bola matanya, tapi tubuh Nia secara refleks bergerak mengarah mengikuti gerak lelaki itu yang kini mengambil buah jeruk di meja depan televisi. Lalu buah jeruk berwarna orange segar itu dimasukkan kedalam kotak.

Lelaki itu tersenyum sekilas. Sejenak matanya bertatapan dengan dua bola mata bulat Nia.

"Aaaah!" Nia terloncat untuk kesekian kalinya begitu lelaki itu menggebrak kotak itu hingga memipih, dan tentu saja jeruk itu menjadi hancur seketika. Hanya beberapa potong kecil yang selamat menembus celah-celah jeruji.

Lalu dengan santainya lelaki itu menyapukan tangannya, membersihkan baju hitamnya yang terkena percikan, menegakkan kotak itu kembali semula, dan membuang jeruk yang tak lagi segar itu.

Minggu, 10 April 2011

Benteng Bangsa Harda

Aku bosan dengan kota ini. Semua jalan besar hingga gang-gang paling sempit sudah pernah aku jelajahi. Ribuan jalur, ribuan tujuan membentang, semua sudah pernah aku jejaki dengan kedua kakiku ini.

"Apa ada dunia lain selain kota yang membosankan ini Bu?"

"Hush!"

Selalu saja jawaban itu yang kudengar dari ibu. Sepertinya pertanyaan itu teramat tabu untuk ditanyakan di kalangan bangsa kami, bangsa Harda. Sebuah bangsa yang hidup di sebuah wilayah yang sangat tertutup rapat dari dunia luar.

Hidup kami penuh dengan perjalanan. Ya, kami hidup dengan berjalan dan terus berjalan, bergerombol, berdesak-desakan, tak kenal kata henti kecuali jalanan yang tiba-tiba menyempit atau kami mati, baik karena serangan musuh tiba-tiba atau mati karena menua.

Di sepanjang jalan terbangun benteng yang sangat kokoh, yang tak mungkin tertembus jika hanya mengandalkan kekuatan kami. Selain itu pasukan putih selalu siaga berpatroli di mana-mana.

"Kalau kau beruntung kau bisa ke luar dari kota ini" kata seorang lelaki paruh baya yang kali ini berjalan beriring denganku.

"Ba.."

Rabu, 06 April 2011

SELAYANG JAMBI

DEMOGRAFI
JAMBI resmi menjadi provinsi pada tahun 1958 sesuai dengan UU No.61, 1958, Juni 25. Provinsi Jambi terletak di sebuah kawasan yang dikenal sebagai sebagai Pulau Andalas atau Sumatera. Provinsi Jambi terletak antara 0 º 45 '- 2 º 45' Lintang Selatan dan antara 101 º 0'-104 º 55 'Bujur Timur. Terdiri dari 8 Kabupaten dan 2 Kota dengan jumlah penduduk 2.568.548 orang berdasarkan sensus tahun 2003. Wilayah Provinsi Jambi meliputi bidang 53,435.72 Km2 dan panjang 185 km. Batas-batas wilayah Propinsi Jambi adalah sebagai berikut:
  • Utara, dengan Provinsi Riau
  • Selatan, dengan Propinsi Sumatera Selatan
  • Barat, dengan Provinsi Sumatera Barat
  • Timur, dengan Laut Cina Selatan.
IKLIM

Di Provinsi Jambi, dari bulan November hingga Maret adalah musim hujan. Dan awal musim kemarau pada bulan Mei sampai Oktober.  Rata-rata curah hujan 1900-3200 mm / tahun dan rata-rata hari hujan 116-154 hari / tahun. Suhu maksimum di Provinsi Jambi adalah 31 derajat celcius.

Selendang Mayang

Orang membakar di Pulau Hantu
asapnya ada tabun menabun

Orang membakar di Pulau Hantu
asapnya ada tabun menabun

asap api membakar kebun
merendang lada di sampul luleh

Taruknya kaca tangkainya embun
dipandang ada diambil tak boleh

Merendang lada disampul puleh
asapnya sampai ke Gunung Tujuh             

Minggu, 03 April 2011

SEBENARNYA DOA TAK BERTANYA

Tahukah, dalam diam doa itu ditilam?
Getir begitu getar, payah patah pecah?

Ingatkah, kala rantau begitu igau?
Di bawah dengkur itu, siapa yang gelusurkan belai?
Di kerikil jalan, siapa yang melempang tubuhnya?

Apa arti mata yang darah?
Jika kelak jemari sendiri 
yang gerumbulkan belukar di sajadah 
Lalu kening pun malas bertakzim rebah

Sabtu, 02 April 2011

MENGENAI LELAKI AKHIR CAWU



Di meja biru persegi itu, kita akan duduk bersisian.  Setelah kau renggangkan sedikit sebuah kursi rotan, lalu mendudukkan tubuhku yang mendongak menghadap meja.

Seorang pelayan, bujang berumur tanggung, sekenanya menggelusurkan dua gelas besar teh hambar. Sejujurnya, aku benci sekali rasa pahitnya.


Pelayan itu mendekatkan wajah datarnya padamu. Kalian bercakap-cakap sebentar. Dan pastilah bukan mengenai alasan macam apa yang menyurupi Mike Tyson untuk mengerat kuping musuh beratnya, Evander Hollyfield di ronde permulaan, dua pekan lalu. Karena bujang tanggung itu lantas menegakkan dua jari kepada karibnya_ bujang tambun yang sedang berdiri menghadap semacam plat besi sebesar tampah beras, namun hampir datar berlumur minyak mendidih.

Bujang tambun itu pun  memecah dua butir telur itik diatas adonan yang telah ditepuknya setipis daun keladi. Dan cekat ia tilam telur itu kedalam adonan menjadi empat sama sisi, dengan aroma khas yang mengeriapkan penjuru bilik lambung.

Ingin kuutarakan sesuatu padamu. Namun buru-buru redup mata itu mencegah.