Senin, 25 April 2011

PERCAKAPAN MEJA MAKAN

“Emmh… masih enakan masakannya bunda, ueeekkh!”
“sssst, mulutmu itu, Dik!” (menekan geram)
Sedari tadi udara disesaki sepi, tidak ada kata-kata yang berani menegaskan wujudnya, hanya desisan bibir dan delikan mata yang saling hujam satu sama lain. Celoteh cicak  mengiringi denting sendok dan garpu yang memantul-mantul di ruangan bercat coklat krem, yang berpadu manis dengan meja dan kursi coklat tua mengilap serta bersiku dinamis ala Art Deco. Di sudut lain, berdiri sebuah jam antik tegap dan dingin, seperti berputar maju mundur memelihara waktu.
Empat rongga mulut di ruangan itu memamah dan mencecap dalam masing-masing hati yang seperti mengidap ambeien, gusar. Terutama si perempuan paruh baya yang sedang menggesek-gesek steak kejal yang tak mau putus-putus itu. Si perempuan paruh baya dengan decit kursi keenam kalinya, yang menghujamkan Sour De Parisnya ke lubang hidung tiga manusia lain di ruangan itu hingga pening, termasuk juga sepasang cecak terbakar asmara di sudut langit-langit ruangan. Dan si perempuan paruh baya dengan rambut coklat bergelung-gelung, yang rikuh gelagatnya segera di tangkap pria buncit berjambang lebat, berkaus tipis, bersuara berat yang duduk bersisian dengannya.
“Ehem… bagaimana ulanganmu tadi, Dit?” (udara pecah)
“Eh, Lancar, Yah! Minggu depan Bunda, eh, Ayah boleh ngambilin Rapor Radit!”
“O begitu, tapi kemungkinan minggu depan Ayah ada meeting di pusat. (pria buncit menoleh ke sisi kiri, menatap perempuan paruh baya yang cepat-cepat menata senyumnya) Atau, biar Tante saja yang…”
“…Yaaaaah! Ade’ maunya masakan Bundaaa!” (Pria buncit tercekat dengan vokal “a” yang hampir terjungkal dari bibirnya. Perempuan paruh baya berdesir, menggulung senyumnya kembali)
“Psssssttttt!!! Berapa kali harus abang bilang!” (menekan bisik)
“Adduuuh! Abang jangan main cubit-cubit gitu doonk! Sakit tauu’!!!”
(*Si perempuan paruh baya gelagapan, lalu mendecitkan lagi kursinya. Kali ketujuh!)
***
Dalam waktu yang hampir bersamaan, dari sebuah kamar berudara remang jingga. Di sebuah rumah lain yang direntang tujuh jam bis malam dari rumah di atas berada.
“Aku kangen Radit dan Rahmi, Mas!” (meratakan sejenis krim awet muda di hadapan cermin)
“Hmmh… kamu ini! beri aku waktu dong, nanti biar aku yang urus” (menyempit-nyempitkan dasi)
“Ahh, dari dulu kamu selalu ngomong begitu! Tapi mana buktinya?” (naik kasur, menggelusur, mengoceh kecil dalam selimut)
“Kamu ngertiin aku dikit dong, beberapa minggu ini aku dikejar deadline, belum lagi nanti…”
“…aaah ya udahlah, aku ngerti! Ngertiii banget, Maaas!
“Nah, trus kapan kita ke rumah orang tuamu, Mas?” (menyibak selimut dari wajahnya)
“Gila kamu! Ya tunggu kamu urus tetek bengek perceraian kamu dengan suami kamu itu!” (kemudian meraih tas kulit, sembari melangkah keluar pintu kamar)
(bunyi mobil distarter di halaman, beringsut, menderu, lalu hilang di tikungan ujung komplek)
“huufffffff…”
(beberapa saat senyap turun mengendap)
“Klik” (Lampu meja dimatikan)

0 komentar:

Posting Komentar