Rabu, 30 Desember 2020

Petikan terbaik dari "Dead Poets Society"

I close my eyes 
And his image floats beside me
A sweaty toothed madman
With a stare that pounds my brain
His hands reach out and choke me
And all the time he's mumbling
Mumbling truth 
Like a blanket that always leaves your feet cold
Push it, stretch it, it will never be enough
Kick it, beat it, it will never cover any of us
From the moment we enter crying
To the moment we leave dying
It'll cover your face
As you wail and cry and scream


- Ethan Hawke

Minggu, 29 September 2019

12 Detik Prasangka


Aku menera pada selembar bayangan yang melawan terhapus matahari. Bayangan dari tiga per empat kepala yang gagal membayangkan seperempat usianya bukanlah gulungan seratus tujuh puluh lima depa benang wol. Tersangkut marut di pagar berduri. Sebelum kau melompat dan halamanku tiba-tiba penuh dengan hal-hal yang tak sempat.

Saat kau menjauh. Apakah angin yang berkesiur mencerabut benang benangnya adalah sebuah aduh? Semakin sangkut di bilah mata. Hingga jantung kalaku jatuh menjangkit akhirmu. Menetes tuntaskan raga rasa di getar getir pasir.

Padahal semestinya hidup mudah saja bukan? Lenggang matahari. Menjangka ubun-ubun kita. Jarum berdetak memugar segala yang tertunjuk.

Betapa sangsi bayanganku merebut bayanganmu. Sebulat cahaya.

Meniadakanmu
Meniadakanku


Zhongli
September 19

Jumat, 13 September 2019

Sejenak Merenungi Hutan Kita

Apa yang kamu lakukan jika suatu pagi saat terbangun dari tidur, kamu mendapati seekor harimau sumatera sedang berbaring cantik di dapur rumahmu? 

Terdiam mematung? Berteriak minta tolong? Atau mengambil smartphone lalu mengklik fitur live Instagram sembari berkabar riang “Hai, Guys! Ada yang dapurnya pernah kemasukan Harimau kayak gue sekarang?!”

Sepertinya pilihan yang terakhir amatlah mustahil. Tapi percayalah perihal disatroni Harimau Sumatera tidak mustahil, dan bahkan sering terjadi kepada masyarakat yang bermukim di wilayah sekitaran hutan. Sebut saja di kawasan Sungai Gelam - Muaro Jambi, atau di kelurahan Teluk Meranti, Provinsi Riau. Di mana Harimau Sumatera masuk ke pemukiman warga karena kerusakan dan alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit. Seperti yang dipaparkan oleh Dr. Atiek Widayati dari Tropenbos Indonesia dalam event Forest Talk With Netizen Jambi di Swissbel Hotel pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019.


Mengusung tajuk “Pengelolaan Hutan Lestari”, event yang digagas The Climate Reality Project Indonesia dan Yayasan Dr. Sjahrir tersebut menghadirkan para narasumber kompeten yang wilayah konsentrasinya bersentuhan langsung dengan upaya pelestarian hutan.

Kamis, 26 April 2018

Pelan-pelan, Raj


Kabut terakhir mengenai bukitan
Tentang menentang sebalik hari hatimu yang terjal
Dengan pucuk puncak hijaunya yang janggal
Entah untuk menengadahkan
Risalah salah yang mana

Yang menyangkalmu dengan wewarnaan
Supaya putih hitam tak berkerisauan
Meski raga telah meninggalkan
Jiwa terbujur mudah saja biarkan

Nanti akan tiba masanya sendiri
Nanti akan jatuh waktunya berbilang
Katakanlah dengan tak lekas
Sebab segala yang berbekas
Akan mengakanmu
Berlinang liang

Wajah

Mereka yang menyusahhati akan selalu giat menggurat panjat puisimu dari pangkal akanan hingga puncak tunas. Matahari bahasa bersangga. Membiarkan bulir-bulirnya bubar. Membusung tanah. Menyuburkan rasa lapar bagi lidah yang hanya memburu luluhan kalis kata. Namun tiada yang terpikat oleh keranjang lambung selain cercah anggur hitam. Oleh kerinjang lambang yang tak berjumpa titian. Suwung rerangkai aksara belaka.

Kecuali bagi kedua mata ini. Telanjur basah oleh selekeh getah madah pujangga. Melengangkan pematang pandang. Menggembalakan pejam sunyi dari rumputan musykil hingga mantra bungsu. Di lereng renungmu. Aku tanah pekat yang terlalu jerih kepada merpati hijau lumut yang seketika melewat. Seperti taring angin yang membimbing domba-domba lesih. Tapi kegirisanku jangan kau sembelih. Biar menjalar sepanjang lampai langkahmu. Biar liat wajahku ada untuk menyerupai wajahmu.

Ke menara putih. Rima larikmu menjenjang labur. Sebab hanya pada ketinggian itu mereka yang menentangmu akan bermata satu. Meski jua terpandang kau yang dua. Saling berseteru antara sang pelubang hujan dengan pelukis berkuas gerimis. Di jalan bebatu. Tiga kereta kredo ditarik kuda perang. Seperangkat muslihat penjerat. Memburumu hingga pejal ajal.

Seluruh jalan ucap yang kau tempuh telah tercerap sebelumnya dalam lembaran rajah juru peta. Hingga tiada pukau bagi mereka sembunyi ekor rubah yang kau awetkan dalam bait paling piuh. Atau bunyi jantung hati kau hanyutkan ke dada Tiberias. Lamun kau tak berguncang arang belati.  Sebab tubuh kidalmu lebih layuh kepada kanan sejati.

Maka dari retakan ubunku. Bersilang selimpat kurakitkan rambut galah. Jerambah yang menjangkau-jangkau tepian makna. Biar nanti pada hari yang telah ditentukan. Kau bisa menghambur dari kitabmu yang mana saja. Munggah titah. Bersama kasutmu. Sudah kupersiapkan segala. Supaya di tiang persembahan itu. Kaum yang menyelisihimu terpedaya. Supaya mengaduh gaduh tubuh mereka penuh gelegak mangsi yang bukan majasi.

Sementara wajahmu ada untuk mengusap wajahku.

Selasa, 22 Agustus 2017

Pintu


Terhadap tanganmu ia terbuat dari apa saja. Bahkan jembatan yang menyeberanginya turut menyusunmu dari lekatan madu. Ia masukkan luar dan dalam di satu saku baju. Karena saku lainnya telah penuh gurau gundu. Gemerincing seperti persua-jumpa. Jembatan sepanjang Februari dan origami perahu. Tapi kau tak di situ. Kau lebih dari bilangan yang melipat-lipatkan dirinya hingga bergetah.

Sampai berderik meranti langgai. Dari sakunya menggelinding mata-mata belia. Memenuhi beranda. Menabuh parau ladang. Mencelupkan ujung kakinya pada perjalanan mencari air. Menemukan seutuhnya dirimu adalah tarian lebah. Suara-suara yang berumah di udara. Tanganmu mengeluarkan dalam sebagai hujan. Hingga alisku, pingganku, kasutku, bilahku, tenggelamku dalam dalam.

Terhadap ingatanku kau terbuka dari apa saja. Seperti batang sungai yang tak berdaun pintu. Tiada ketukan-ketukan. Hanya laju perahu. Menujumu yang tidak ada di situ.

Rabu, 31 Mei 2017

Semesti

Apa yang seharusnya aku lihat?

Ombak bergelung melepaskan keluasan cemas ke udara. Air demi air meminta wajah, meminta satu nama untuk disebutkan supaya kau memiliki semua huruf untuk dipertanyakan. Tanpa khawatir bayangan yang tumbuh perlahan tak pernah mencapai tepian. Segala tempat untuk menambat

Seperti arang dari rumah dahimu yang terbakar. Aku ingin begitu saja turun. Merendahkan hati sambil mengingkari semua bercak siasat yang telah tumpah sebelumnya. Di atas lantai. Tepat ketika lima pasang kaki langit berhenti sejenak dan mengusap ujung sepatunya yang terbuat dari kulit hujan. 

Minggu, 30 April 2017

Rahim Ligula

1.
Merah ladang tak memiliki
Selihai api menggegar gigil belanga
Butiran hara berkusam bakal jagung begitu
Remah di rekah-rekah tanah seumpama  gadis gering
Terlampau lama berlawa-lawa. Tak sempatlah runduk
Terpandang pulang lebah-lebah peminang. Serabut akar
Yang membawa ruhnya ke rahim ligula. Dari malai
Ke keranuman langit
Kemuning daging
Keluasan bakul tanak
Tawa riang anak-anak
Tiada

2.
Sekerat anyam pandan memasang gelanggang
Menyilakan lapar berhasrat lembu bertemu kubangan
Lumpur yang tersangkut di sela jala yang ditebarkan
Namun ikan tembakul selalu belum selesai dibuat
Lubuk dan payau terlalu sibuk menghalau kemarau
Ke tepi hutan di mana lelaki mereka tak litak kehendak
Giat memerangkap burung burung terlalu ligat
Sampai lupa di bilik rumah ada yang mulai berlepasan
Temali yang menjulur dari matanya mulai dikendurkan
Menjeratkan sendiri maut batu dan segala cahaya
Yang pernah ada di kepala
Matahari mereka

3.
Maka terlalukah bila
Perempuan luka menyebatang kara
Ruas jemari lemah sendiri. Sanggul tak terbuhul
Patah pucuk membuluh lentur; amaran demi amaran
Dua jantung rebung. Tingkah dan berulah
Sampainya merajuk sendiri tak tertanggung
Menunggang langgang Mak Tanjung
Isak bertuah kepada batu
                Hati patah
                Siuh bersanggup
                Batu belah
                Batu bertangkup

4.
Sepasang sayap
Terbang rendah
Antara nirwana
Dan daun pintu
Yang tertutup
Di telapak kakinya

5.
Mak, lihatlah
Sekarang di rumah
Sesekali datang semut tanah
Mereka begitu pintar menghindar
Bahagian yang basah

Jumat, 31 Maret 2017

Jalan Penyair



Penyair, mesti mengungkapkan sesuatu yang tak terpikirkan orang lain. Atau, dalam ungkapan para teoretikus sastra-sastrawan -penyair- mengolah peristiwa biasa menjadi luar biasa; melihat sebuah kegilaan dari kegilaan yang lain, memandang peristiwa apa pun dengan intuisi dan menerjemahkannya dengan pemahaman metalogika. 

Dalam bahasa yang lebih filosofis, menangkap fenomena, bukan dari gejala atau tanda-tanda, melainkan dari sesuatu yang jauh berada di depannya. Fenomena sekadar sebagai sinyal pada sesuatu yang melewati batas kehidupan. Ini bukan perkara rasionalitas -irasionalitas, melainkan rasionalitas-metarasionalitas.


Dikutip dari buku Jalan Puisi; Dari Nusantara ke Negeri Poci - Maman S Mahayana

Kepompong Kata


Sebagai penyangkal usia yang terlatih, saya bisa tiba-tiba jatuh ke level amatir bila terjumpa penyair muda yang karyanya bikin belingsatan. Terpesona oleh karyanya, sekaligus iri. Meskipun belakangan saya mesti teringat lagi bahwa di dunia ini kita hanya boleh iri kepada tiga hal.

Adalah Surya Gemilang yang kali ini mengusik saya. Pemuda kelahiran Denpasar 21 Maret 1998 ini karyanya sudah tembus Kompas, dengan tema-tema yang diangkat cukup esensial. Seperti puisinya yang bertajuk Kepompong Kata berikut ini

Kepompong Kata


makna di dalam kepompong. kata yang membusuk
menghujani pinggiran jalan
seperti cahaya lampu kendaraan
kulit definisi mengering. menipis. tumbuh retak di mana-mana
sedangkan makna seperti mencurangi waktu

disetubuhi lidah dan liur, kata sanggup berganti pakaian
berganti tubuh
yang satu tetap aman di kapal kamus. sisanya
liar memangkas kultur.

(Jakarta, 2016)

Judulnya barangkali tidak terlalu spesial karena paduan kata ini sudah lumrah kita dengar. Tapi lihatlah bagaimana Surya membatangtubuhkan puisinya. Sebaran kata yang merangkum beberapa citraan visual. Kepompong, hujan, jalan, lampu. Kesemuanya dijejalinkan dengan makna, kata dan definisi. 

Makna yang ada di dalam kepompong itu, adalah kata yang membusuk, yang menghujani pinggiran jalan, menerangi seperti cahaya lampu kendaraan. Sementara kulit definisi mengering, menipis (tapi tidak habis), lalu tumbuh -tapi- retak di mana-mana sedangkan makna seperti mencurangi waktu.

Asik sekali ya bait pertama ini. Makna dalam kepompong, artinya si makna tersebut masih akan mengalami proses, berubah menjadi sesuatu -yang baik. Tapi makna tersebut adalah kata yang membusuk. Sudah pun begitu ia turun seperti hujan. Hujan cahaya lampu yang menerangi jalan. Tentu saja jalan di sini bukan sekadar tempat berlalu lalang kendaraan, tapi arah kemana hidup kita dilangkahkan/dijalankan dengan 'kendaraan'.

Sementara itu definisi dari kata tersebut digambarkan sebagai kulit (sesuatu yang tipis dan permukaan), itu pun masih menipis pula, tambah lagi ia retak (sejalan dengan waktu) sementara makna bergerak mencurangi/tidak terikat oleh waktu. 

Di situ terlihat sekali penegasan perbedaan antara kata defini dan makna. Tiga serangkai yang jadi esensi dalam dunia puisi, digambarkan bisa sangat paradoks sekali.

Kata -pada bait berikutnya- disetubuhi (dicerna) oleh lidah dan liur. Penggunaaan kata disetubuhi sendiri bisa sangat kompleks sebenarnya. Pergulatan dalam ucapan (mulut yang dalamnya ada liur dan lidah). Selain itu kata juga bisa berganti pakain atau tubuh, bentuk ataupun makna dari kata itu sendiri. Yang satu tetap aman (dalam koridor kamus) sementara kata bisa bergerak bebas di luar itu. Baik melalui pengembangan makna, ataupun sebaliknya.

Aduhai, saya sama sekali tak pernah berekspektasi bahwa puisi semacam ini ditulis oleh remaja belasan tahun. Sangat dalam sekali.




Kamis, 30 Maret 2017

Garis Pantai, Liku Benua dan Lukisan di Atas Kafan yang Dihapuskan

Mereka mencintai kekasih. Kekasih angkasa dengan udara. Hidup kena memijak kemana telapak putih itu menjejak. Memanjat buah-buah berdahan rendah. Ambillah. Ambillah. Untuk membasuh dadamu. Tempat doa-doa mestika dimestikan. Jadi sepasang tongkat-atau tombak? Kala hari lelah melembah. Cahaya lembing. “Pandanglah kami sekali sekala.” Biar laju darah dan air mata berhulu pada yang Satu.

Sebenar maut menggelinding. Cangkang putih renta retak meretak. Lelehannya sekemuning maghribi. Setangkup wewarna. Lelahannya seluka duka. Menyulih taswir wajah-wajah. Sejak tangis pertama pecah di putaran pusara. Wadd, Yaghuts, Ya’uq, Nasr dan Suwa. Nafas-nafas suci yang mangkat silih semilih. Membawa segala kelembutan anginan. Hanya sisa pilu rintih. Benang-benang putih. Berjejalin menjaring-jaring. Huluran kafan membentang-bentang.

“Aku mendengar ratapan kalian, apakah kalian mau aku gambarkan wajahnya sehingga bisa kalian kenang?” Seorang lelaki kerling. Menjanjikan dan menjadikan. Hitam. Titik menetes. Garis menetas. Rupa menegas. Dipandang di awangan. Dibakar bersama tembikar. Direca bersama batuan. Di rumah-rumah. Disembah-sembah. Yang memasukkan musim gugur pada semi. Yang gampang belaka merendahkan matahari.

Duka berganti dupa. Asap tebal menguar di celah antara dua mata menghamba. Turun ke segala ceruk dan perkakas sebagai hujan hitam pewarna. Angan tangan mereka dituntunkan supaya lihai melukiskan. Melekaskan goresan-goresan itu pada segala yang mendatang pandang. Untuk melekatkan wajahMu. Dari garis pantai hingga kemuncak liku benua. Tak terhapus. Sekalipun hujan paling humus.

Kecuali seorang lelaki yang datang dari mereka sendiri. Tubuhnya tak mengenal lakuan dupa. Tak berkuas kayu. Tak berkuasa memahat batu yang ditumpukkan. Lelaki Nuh. Menyeberangi terjangan siang. Menapaki libasan malam. Kepada mereka. Suaranya bening bak tasik tembus cahaya. Di ladangnya 950 batang -atau kurang lebih dari itu ditumbuhkan. Namun teramat sedikit yang berbuah. Selebihnya ranting-ranting tabah.

“Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata,” timpal mereka. “Datangkanlah azab pada kami jika kamu benar adanya.”

Lalu turun titah untuk mematah pohonan. Ke atas bukit yang nanti akan menjadi bukti bahtera. Haluan buritan ribuan hasta. Maka ketika seluruh kayu dan paku telah terakit. Pintu-pintu bumi dibuka. Seluruh sungguh penjuru langit menjatuhkan sumbu-sumbu. Lalu dinyalakan. Hujan paling benderang. Tanur yang memancar. Mengejar angin-angin lebih dahulu berlari tak bertemu lindung-lindungan. Menenggelamkan angan-angan yang dahulu bergantung pada sesembahan. Mudah saja terhapuskan. Hingga puncak dunia mana saja. Hitam dan hanya gelimpang hitam semata.

Kecuali seorang lelaki yang datang dari Nuh sendiri. Tubuhnya dirundung ombak. Nuh berseru menawar sauh. Kan’an menikainya. Ia tahu hakikat tuhannya, bersetia, dan menjatuh air muka Nuh -wajah yang tak kalah bah. Tapi ia tidak tahu bahwa di dasar bahtera. Hewan pungkasan. Sepasang keledai itu. Siapa yang sedari datang diam-diam bergelayutan di perutnya?

Rabu, 29 Maret 2017

Puisi Seja(t)uh Ini




Saya dan puisi seperti sepasang kekasih, yang sudah terbiasa membenci satu sama lain. Namun seringkali menemukan (atau dipertemukan) cara untuk bertemu lagi dan bicara "Aku tak bisa hidup tanpamu!" Aneh. Seaneh puisi itu sendiri. Juga saya -barangkali. Karena sampai sejauh ini saya masih belum ngerti apa itu puisi. Meskipun ia sering menatap mata saya dalam-dalam hingga tenggelam. Saya sungguh tak berkutik dibuatnya.

Saya sangat butuh puisi seperti saya menginginkan jantung hati saya menjadi transparan. Menjadi setumpuk berkas yang mudah saja saya membacanya. Sehingga saya tahu apa yang sebenar-benarnya apa yang saya rasakan. Seperti perasaan saya ketika melihat kabut turun di pegunungan. Dada saya terasa penuh. Begitu saja. Tapi saya tidak tahu apa yang sebenarnya saya rasakan, selain penuh. Tidakkah ini aneh.

Dan puisi seringkali manja, ia tidak serta merta ada ketika kita membutuhkannya. Apalagi kalau saya sudah meningggalkannya dalam waktu yang lama. Butuh usaha keras untuk membujuknya dari masa merajuk. Butuh baca buku-buku puisi dulu. Tidak cuma satu. Barulah ia menampakkan wajahnya. Lamat-lambat.

Itupun saya masih berjuang keras untuk melawan rasa rendah diri dan atau putus asa. Karena dalam puisi-puisi yang saya baca tersebut saya merasa kok begitu mudahnya para penyair itu mendedahkan perasaanya. Dalam bahasa yang karib. Unik. dan seringkali pada sudut-sudut yang tidak tersentuh.

Saya jadi yakin proses ini sebagaimanapun kerasnya saya melawan, akan masih terus berulang. Semoga. Semoga saya kuat dan umur saya panjang.

Minggu, 26 Maret 2017

Beringin


Sepohon kehendak yang pepak
Centang perenang gelombang dahan
Silih bertahun daun-daun

Pintumu yang memergikan

Kesementaraan kersang ladang
Menyangsikan akar mata jumpa
Akanan repih daulah batang

Tubuhku yang menabahkan

Belanga Abraham

/1/
Apa yang memunggahkanmu
Ke atas sekoci seperapungan matahari
Sehingga arus maut sangkala
Semestinya pekayuhbimbing belaka;
Ringan jejak tak jenak Bani Ur punya
Liat daging tanah sejanabijana

Ia ialah tangan yang sama
Seribu pintu terbuka bahkan
Ketika penyembah api
Menyulut bara setelahnya

Ia ialah telapak yang sama
Seribu kayuh kampak bahkan
Kemudian penyembah berhala
Menyulut api ke sumbu nadinya

/2/
Ke dalam lengkung jantungmu
Pernah dituang racik sebukit domba
Yang segera berpindah empu
Kepada tangan asing peminta

Ke sini kau telah diseberangkan
Di mana rupa-rupa tembikar
Bertelekan penyuluh mata binar
Belanga yang menguar kapulaga
Jintan hitam hingga sarang Baklava
Namun sejatinya harum adalah cahaya
Yang dipendarkan dari bagi ke terbagian

Ke kini kau telah bersitahan
Sendiri membilang kepatahan
Ribuan tahun ganjil bergenap harap
Menyerat kalimat rindu
Seutuh tumpah wadah.
Hanya kekasih Kekasih

Dandelion


Melebihi cendayam senja
Berpulas selongsong jantung jingga
Surai gaun belianya jua
Merentak hentak bangsal-bangsal
Yang disehadiahkan suria
Bagi dada mata yang melawan mati
Oleh tebas penderas
Desir darah tak henti berpuja puji

Hingga dan hanya hingga
Zirah musuh rampak tanpa sedaya upaya
Tanpa elak menjadi budak
Bebilah kelopak dihela bak pedang disarung
Gemerincing berpenjuru
Namun tiada pernah tahu bahwa besertanya
Noktah hitam bersitahan
Akan menyala angkara dari sumbu pertahanan

Hanya duka sepanjang usia
Mampu membayar lunas tiap lelehan emas
Kemuncak segara magma
Memusnah segala rupa dalam katup tertutup
Tapi sesiapa pencari jasad
Mestilah kecewa sekali buka gerbang mahkota
Telah lesap semua penanda
Selain rerumbai yang lebih putih dari kekasih

Lebih sayap dari elang jalang
Lebih sekutu pada angin sebar pada tanah subur
Namun tiada pernah tahu bahwa
Dari benih tualang yang terbang ke sembarang itu
Amsal mati satu tumbuh seribu
Setia dijunjung ke ujung pangkal bakal perletakan
Gaun belia yang senantiasa sedia
Menghunus bilah-bilah; mekarnya kecamuk pesona

Melebihi cendayam senja...

Selasa, 28 Februari 2017

Serunay ~9



Hanya di lingkar
Pandang rembulanmu
Anak-anak kataku pemalu
Berjingkat ke belukar

Merupa-rupa cinta
Meraup-raup cahaya

Senin, 13 Februari 2017

Alam Terkembang

1.
Apa yang telah diucapkan pakis hingganya ia menggulung lidah? Bagimana ia bisa beritahu jika ada seekor burung. Tersesat dan ingin kembali. Menjadi telur. Di seberang lautan ilalang. Sering terdengar perdi-perdu memasang daun telinga. Hijau sangsi seperti riuh kala arah patah berjatuh.

2.
Apa alat musik yang tepat untuk menghibur aroma duka dari sepasang kamboja yang saling jatuh cinta? Sementara kota terus menggali lubang bagi nama-nama. Mengundak batuan yang ditanggalkan. Di mana bulan berbilang. Mengutip kata-kata yang tak sempat kuntum di ranting yang mengakar ke langit tua.

3.
Kenapa kunang-kunang itu selalu ingin berlebat dengan cahaya pada tungkai kenanga? Tidakkah bening keningnya kenang-kenang belaka? Melengang jalankan seekor kijang menyongsong api asmaradana. Kunang, Kenanga, dan Kijang tak tahu kalau mereka hidup dalam pikiran seekor kutu yang selalu gagal memanjat bulu rubah.

4.
Kapankah seruni merasai hujan telah berlebihan hingga ia perlu mekar yang lebih sabar? Agar danau yang ia cipta merenangi dan meneranginya dengan biru-biru berkah. Bulir alir yang keberat-beratan. Agar runduk parasnya mendengung jantung. Seperti bah kalimah jernih. Fasabbih. Fasabbih.

5.
Siapa lagi yang pernah dijelma kembang sepatu selain tukang pos yang gugup dengan langkah-langkah beratnya? Tujuh hari ia sampai puncak edelweis. Sekerat perkamen tua. Kepada sebutir debu delapan satu gugus tangkai 359 barat daya yang baru hinggap tadi petang. “Ya, itu kiriman dariku!” seru debu di sebelahnya.

6.
Bagaimana camar-camar mematah bunga suria di pucuk-pucuk ombak saat malam yang tak bersedikit dari rasa sakit? Mungkinkah mereka membagi menjadi sepertiga-sepertiga? Tanjung, kuala, dan labuhan. Penuh bersandar. Kepada terbang kepada mati. Supaya kelopak kelopak patah sendiri dihasak sepi?

7.
Di mana layar panggung akan kembali digelar? Setelah gemintang lentera berpecah tiada. Menjadi mekar mawar merah padamkah? Apakah langgam pamungkas yang dimainkan kembang terompet itu terdapat syair yang memberikan tanda-tanda? Wahai?

Selasa, 31 Januari 2017

William Dampier Terdampar di Achin


Tiada yang lebih sutera dari telapak Melaka. Bagi bagai sepotong gagak hitam menyanggat sayap patahnya. Di situ rumah-rumah ramah. Ditegakkan dengan tulang-tulang julang. Pepohon hutan yang senantiasa memohon pada Tuhan akan kebaikan. Akan tahun-tahun yang terseberangi. Riuh-rendahnya jalin menjalin selaik sendi. Seperti kaum yang terus mendaras kepada itu suhufi.

Kalimah-kalimah hujah yang ia keluh tiap kali subuh bergaduh. Oh betapa tanpa menara mereka menghalau hamba sahaya.

Sementara kota mereka dibuahkan kepada batang sungai yang mengakar di dada para pendulang, padagang Gujarat dan Cina, serta pemerah lembu. Di ketinggian Passange Jonca pasir-pasir emas merampai bertandan-tandan. Hanya lidah yang bertunas syahadah dan tanduk yang telah diasah mampu menyampainya. Mengambil sekadar atau tak pernah terdengar kabar pulang.

Ia cuma bercukup istirah. Menghimpun rempah dan mengurapi tubuh. Pula sesekali menebalkan kantung belacu hingga cukup baginya menderu ombak untuk kelak bertolak.

Namun bilah penyanggah terburu patah. Dari sebalik gugusan batu kembang ratu jatuh berdebam ke haribaan tanah. Menerbangkan debu-debu malam ke seluruh penjuru alam. Menebar lada hitam pada daging-daging perseteruan.

Ia hanya membasuh kaki ketika tubir sungai berubah parang panjang pembelah. Di sisi Timur Oronkey mengatur siasah dan berhunus lima ribu serdadu. Di seberangnya Shabander berpihak pada ratu baharu dan memasang meriam.

Maka duka bukan semata berlinang darah dari mata pembuluhnya. Bukan saja siang saling berselisih kerling mata-mata penyeberang. Namun jua bersebab sunyi malam kian tajam. Membelah bulan benderang. Menabuh jantung genderang.

Sungguh ia hanya sebahagian para penyinggah. Di wajahnya tiada sehelaipun bulu-bulu selembut domba.

Kampung Jati, 29-01-17

Senin, 23 Januari 2017

Jubah Semenanjung

Kincir-kincir masih saja menggulung benang-benang angin. Musim jatuh ini. Sekawanan rumput tepian mengenakan jubah semenanjung. Menyenandung senarai syair. Hijau semi dalam igau-igau kepala. Supaya langit menumpah hujan marwah. Meriah seperti pasang laut yang pernah. Memuja sepasang jejak telapak. Kemudian jadi selalu.

Tapi luputkah kau bahwa jubah itu koyak moyak belaka? Kalau saja kita bisa lebih bersabar mengurai jejalin ingin hingga pahit getir geletar ampas. Di dasar gelas itu semestinya bisa kita baca pertanyaan yang paling rahsia. Kail berumpan yang kan menyentak lelidah kesunyian kita. Lebih bahgia adanya. Tinimbang telusuk jarum yang sempat menjangkiti ujung rambut hingga sela jemari kaki. Kemudian jadi seterusnya.

Dalam jeram jejarum itu tak pernah redam. Meski tangannya selalu gagal menangkapsertakan benang-benang angin. Sehingga betapa pilu reruncing itu menyulamkan kembang-kembang kekosongan. Seperti katamu, angin hanya pantas melintas antara tepi langit dan darat. Hanya sesekali menjadi penjerat. Kemudian jadi abadi.

Di lubuk dinginmu. Jika kau masih mengingat hangat serai pada sesapan pertama itu. Mestilah kau tahu sekarang. Apa yang lebih tercerabut dari lusuh jubah semenanjung itu?

Senin, 16 Januari 2017

Jumpa 4.0

pic by @firdaushj_


Barangkali kau tak pintar
Mengajukan tawar
Sehingga betapa tinggi 
Harga serangkai buku puisi
Tapi tukang buku itu baiklah semata
Dibekalkan pulangmu nanti hanya
Racikan terbaik pujangga
Reguklah hausnya
Relakan getirnya

Barangkali aku tak mahir
Membelah riuh Batavia
Tapi memang kota 
Tengah berjenjang rintang
Jalan-jalan bergulung duri pagar 
Sehingga betapa laju desir darahku
Takkan terdengar di merah waktu 
Ruang tunggu bandaramu
Padahal jauh daripada dahulu
Kubenakkan mata penamu
Begitu pelan temani titianku
Dari labuan ke kinabalu

Pada akhirnya kita hanya 
Kaum pejalan yang berhenti sebentar 
Sebagai titik titik berbeda debar
Berkedip-kedip di atas peta buta 
Sehingga betapa sangsi
Mata angin itu sembunyi
Dan menghalau halau
Salah satu aku ataukah kau
Yang lebih dahulu mencari