Kamis, 11 November 2010

DONGENG DALAM PLASTIK

Kuterawangi jendela hotel yang gemeretuk dimainkan angin. Dari lantai tujuh belas kuloloskan pandangan keluar, tampak jauh dibawah sana barisan panjang kendaraan merayapi jalan raya, menyerupai kunang-kunang mengantri jatah cahaya kepada bulan bulat. Meski kasur dan selimut lembut terus merayuku, tapi kantuk belum juga sudi bertengger di kelopak mata. Aku belum mau tidur.
Mungkin udara segar diluar sana akan membantu menuntaskan masalah ini. Kukenakan jaket tebal, lalu turun keluar menyusuri jalan kota berwarna oranye disiram temaram lampu jalan. Menurut cerita temanku, kota ini punya cinderamata yang tak dimiliki tempat lain. Pun tadi pagi Nayla kecilku merengek minta dibawakan sesuatu jika aku pulang nanti.
Tak berapa lama, akhirnya kulihat. Di pinggir emperan toko berjajar lapak yang dipenuhi plastik-plastik kecil gembung bercahaya. Kupercepat langkah, lalu kuperhatikan sesuatu yang digelar di lapak-lapak itu. Ada sesuatu dalam plastik. Bercahaya teduh, cantik bukan main.
“Silahkan tuan, pilih aja! Murah kok!”
Penjual yang ramah menyodorkan sebungkus plastik bercahaya kepadaku. Aih, peri! Seperti yang ada di buku dongeng itukah? Kata si pedagang peri-peri ini memiliki ragam macam kegunaan. Ada yang bisa bernyanyi, mendongeng, bersyair, atau sekadar bercahaya redup ketika lampu kamar dimatikan.
Banyak sekali, aku bingung. untungnyai aku ingat jika Nayla kecilku sangat menyukai warna jingga. Sehingga kupilih peri yang bercahaya Jingga. Akan kupilihkan satu, yang cantik rupanya lagi terang warnanya. Namun saat kuperhatikan satu, aih, bukankah peri ungu yang satu ini lebih mirip artis dangdut. Bajunya minim, tampangnya menor, pun tampilannya seronok sekali. Kukira hanya manusia saja yang bertingkah semacam itu.
Lalu aku pun beralih, ketika akan kugamit yang ungu satu lagi_ waw, yang ini wajahnya kesumat betul. Macam pemeran perempuan antagonis dalam sinetron, yang tak dikasih jatah warisan oleh orang tua kandungnya. Lalu semua warisan diberikan pada tokoh utama perempuan yang berperan sebagai anak pungut dan paling banjir airmatanya, dari episode ke satu sampai seratus tujuh puluh sembilan. Tak ah, aku tak mau Nayla mendapat contoh buruk akibat peri-peri tak baik itu.
Di jejeran pedagang paling ujung kulihat sebuah lapak milik seorang gadis kecil. Boleh dibilang lapaknya amat kecil, dengan beberapa buah bungkusan peri yang jumlahnya dapat dihitung jari. Kuhampiri lapaknya. Gadis kecil itu tersenyum, aku jadi teringat Nayla. Astaga, peri-peri si gadis kecil ini sungguh tua-tua betul. Beberapa sudah tampak peot dan batuk-batuk. Rambut mereka pun telah dijajahi warna putih.
“Tuan, aku jual murah saja. Penghabisan, tuan!” gadis itu menawarkan.
Ah, ayah mana yang tak akan luluh hatinya pada jenis ekspresi muka semacam itu. Akhirnya kubeli juga, sebungkus peri tua yang sedang mengunyah sirih. Cahayanya agak lebih terang disbanding yang lain, namun beberapa kali ia batuk dan meludahkan air sirih. Aku mesti hati-hati membawanya. Kenapa baru terpikirkan bahwa perbuatanku ini mengandung resiko amat tinggi. Ah, sudahlah.

Bersambung…


0 komentar:

Posting Komentar