Kamis, 18 November 2010

Kertas Putih

Putih itu tidak selamanya suci. Amplop-amplop dalam map itu juga berwarna putih. Dibawa dengan tangan kiri berjam tangan rolex keluaran terbaru ke dalam sebuah ruang rapat. Tertutup. Apa yang diperbincangkan selanjutnya merujuk pada isi amplop itu. Seperti di dalamnya ada pasal-pasal tegas perundang-undangan. Apa yang dituliskan berikutnya  juga berdasar pada apa yang disabdakan dalam amplop itu. Seperti sebuah kitab suci yang harus diikuti. Dan ditaati. Amplop-amplop itu masih juga berwarna putih saat dirobek.

Kertas kosong itu juga berwarna putih. Tak ada satu huruf bahkan titik tinta di atasnya. Bersih. Tapi bagi seorang penulis, kertas kosong itu sama saja seperti pocong. Yang membuat sesuatu dalam kepalanya menjerit bila tak ada sebuah idepun yang mampu dijerat menjadi kalimat demi kalimat yang tersurat. Tertulis jelas di atas kertas.

Ya, sebut saja sindrom kertas putih. Kalau putih bagi amplop yang dibawa ke ruang rapat itu amat menenangkan bagi pemberi dan penerimanya, tapi bagi penulis putih kertas sama halnya sebuah medan perang yang dihamparkan di hadapannya. Di atas meja. Di atas pangkuannya. Di dalam bis kota. Di meja makan. Di kursi taman. Di mana saja penulis itu ingin menulis.

“Tidak ada ide!” ah tidakkah ini begitu klasik. Begitu banyak sesuatu yang berkeliaran di sekitar. Begitu banyak yang didengar, dilihat, dicium, dirasakan hati hingga menjadi berdebar-debar. Tapi kertas putih itu masih saja kosong. Tangan masih mengetuk, memutar-mutar pena. Seperti jarum detik yang berputar-putar. Seperti ingin menjelaskan apa yang terjadi di dalam kepala. Ada ide sebenarnya, tidak hanya satu, tapi sepuluh, seratus, atau bahkan beribu ide hingga tak terhitung.

Kertas putih itu masih kosong. Justru karena teramat banyak ide. Akhirnya masing-masing ide saling berdesak-desakkan. Saling sikut saling dorong ingin terlihat paling kuat. Ya, mereka pikir dengan terlihat paling kuat mereka akan terpilih dan dikeluarkan dari desak-desakkan dalam kepala melalui ujung mata pena menuju keluasan putih kertas.

Kertas putih itu masih kosong. “Cinta, saat gerimis turun, dan hatimu menjadi sejuk ranum seperti daun-daun.” Aha! Sepertinya ada ide yang kuat. Cinta seperti ini pasti indah bila dituliskan.

Kertas putih itu masih kosong. Tangan masih tak beranjak. Masih mengetuk, memutar pena. Ah, cinta seperti itu sih sudah biasa. Basi. Lalu beralih ke ide lain lagi. Tampak dalam kepala sebuah ide terengah-engah setelah merobohkan ide-ide yang lainnya. “Aku. Aku adalah kamu yang ditilang polisi tadi pagi. Sangat menyebalkan bukan?” Ya, harus dituliskan!

Ah, ini jadi curhat namanya. Mana mau orang-orang peduli urusan pribadi. Tangan menarik ujung pena kembali. Diketuk-ketukkan lagi ke meja. Kertas putih itu masih kosong.

Ratusan ide pun masih berdesak-desakkan berputar-putar. Seperti jarum jam yang tak menemui titik hentinya. Sudah lima jam, dan kertas putih itu masih saja kosong.

Dan aku masih bingung ingin menulis apa.

0 komentar:

Posting Komentar