Jumat, 11 Februari 2011

DI LADANG PARA

Di tikungan setapak menuju ladang,
musim teduh menengger pagar bambu,
mengunjungi sumur kering yang diseruput kemarau,
menanggar angin jantan ke luncung-luncung putik

Beberapa lampau kemarin, Ayah!
Malam-malam kita begitu hantu. Menghitam gempal serupa
babi hutan, yang mengenduskan galau kepada kuncup doa muda,

atau juga kuncup-kuncup doa muda itu mutung
karena matahari menyulamnya menjadi sehamparan nyala.
Dan musim dalam almanak kita rasa begitu malas beranjak

Tunai kini tunai hai, Ayah!
Jerih ditanam, lah tunai merekah. Di ladang para, keringatmu menggetah
Putih mengulir, serupa bulir-bulir ihram. Yang selalu tawaf
pada lukisan ka’bah, dimana sajadahmu selalu basah

2 komentar:

Dimas Adika mengatakan...

ni karyanya Mas Didin apa Bang Tomi??? benarkah ini tentang seorang ayah yg mampu naik haji dari hasil karetnya, yang dngn susah payah merawat karet krna bnyk gngguan dtang.

Beswan mengatakan...

ni punya tommy,, bukan.. naik haji itu cita2 udah lama tapi belum kesampean. ladang karetnya pun baru akan dipanen...

Posting Komentar