Kamis, 14 Februari 2013

#petikatagore




* #petikatagore : petikan perkataan Tagore, seorang penyair peraih Nobel Sastra berdarah India, karya-karyanya banyak bersumber dari renung-renungan alam, dan sungguh sangat luar biasa.


Rabu, 13 Februari 2013

Puisi-Puisi Buruk


wahai puisi-puisi buruk
cacat dan janggal
yang dirobek oleh tuannya.

datanglah kemari.

temani sajak-sajakku
yang tak seberapa ini
mereka pasti berlapang hati
menyambut kalian

terhadap teman-teman yang sepadan
mereka tak akan malu membuka diri
bersenang-senanglah kalian
buatlah kegaduhan pada dunia

jangan khawatir
sang tuan mereka ini
tak akan mati oleh caci maki
ia hanya akan menderita
hingga binasa sendiri
saat tak bisa lagi
menulis puisi


Penghulu Muara

                : adjeng dan suami
 
maka kita mulakan dan muliakan segalanya
pada paraf penghulu. Di mana "Sah!" adalah basah
bening mata air dan air mata haru yang melalui
celah bebatu

dalam kepatuhan kerja pada aturan-aturan ketinggian
air-air itu mengalir, menjadi kelok sungai, menjadi elok landai
mempertemukan dua desa, menyatukan kita

petak-petak sawahnya adalah kubikel-kubikel
di mana tangan-tangan matahari bekerja
mengetikkan hijau di musim tanam
mencetak kuning menjelang panen tiba

biji-biji padi. keping-keping mata uang kehidupan
yang kita gemah ripahkan kepada sanak saudara
handai taulan pun orang-orang yang berlalu lalang
antara benci dan cinta, juga tak lupa pada sekawanan
burung-burung yang tak pernah terlambat bekerja

maka kita mulakan dan muliakan segalanya
pada paraf penghulu. di mana air kehidupan 
cinta kita bermula. mengalir setia menuju muara
lautan. meja di mana semua lembar kerja cinta kita

dihamparkan. dihadapkan
mulai dari laporan kemesraan
pun hingga notulen-notulen perselisihan
dalam keseharian kita mencari mufakat
mencari kesebenaran maslahat
semoga semuanya mendapat
tanda tangan-Nya





Selasa, 12 Februari 2013

Kesiangan

entah terjebak di labirin mimpi ataukah
karena dinding yang teramat kuat menahan
gempuran matahari. di ruangan gelap itu kau
tergeragap bangun dan bingung mencari arloji
peta kecil untuk mengeluarkanmu dari segala
keterasingan detik-detik ini

tapi semua telah terlambat
jantung itu sudah tak berdetak lagi

Senin, 11 Februari 2013

Tukang Kayu di Dalam Buku

Saat cuaca hujan belaka
Kepada buku aku bernaung
Dua sisinya adalah atap yang kedap
Di bawahnya aku duduk berdiam
Dibekukan waktu. Padat pasi
Seperti gelondongan kayu jati
Terpaku menatap langit-langit

Huruf-huruf tak seberapa. Padat spasi
Hitam berjatuh-jatuhan
Berkumpul di sudut
Menyatu menjadi wujud
Tukang kayu yang tua
Tukang kayu yang puisi namanya

Peralatan yang sederhana
Pisau ukir, pahat, palu dan kikir
Dengan cara yang serta merta
Dipahat tubuhku mili demi mili
Perih demi perih
Menjadi putra mahkota
Menjadi tugu berukir bunga-bunga
Menjadi patung yang murung
Menjadi balok kayu
Menjadi sampan kecil
Menjadi bocah berwajah dingin
Menjadi serigala
Menjadi keranjang sampah
Menjadi elang
Menjadi teratai hitam
Menjadi hati
Menjadi serpihan hati
Menjadi serpihan serpihan hati
Menjadi titik

Jumat, 08 Februari 2013

Sapu Terbang Tak Berkawan


 
Dunia sihir –dunia rekaan ini- memang selalu diidentikkan dengan sapu terbang, topi kain hitam berbentuk kerucut, yang keduanya dikenakan oleh si nenek sihir. Kenapa sapu terbang? Mungkin krena sifatnya yang praktis serta bentuknya yang pas untuk dipakai terbang; secara langsung sudah terdiri dari tempat duduk dan pegangan tangan. Coba misalnya sendok terbang, kan jadi repot.

Selain itu sapu terbang memiliki tingkat aerodinamis yang bagus (semoga saya tidak salah istilah) yaitu dengan dipakai dalam posisi merunduk ke depan, secara keseluruhan bagian depan sapu terbang mempunyai luas penampang yang kecil sehingga dapat dengan mudah dipakai ngebut menembus angin. Beda kasus kalau misalnya yang  dipake itu baliho terbang, beuh mau terbang sepuluh meter aja susah banget.

Pertemuan Penyair Nusantara VI


Jumpa lagi di sesi dibuang sayang. Kali ini diambil dari arsip PPN Pertemuan Penyair Nusantara VI akhir Desember lalu (tanggal 28-31) di Jambi. Bertempat di Hotel Ratu & Shangratu, acara ini tidak hanya dihadiri oleh penyair negeri saja, tapi juga dari negara-negara tetangga.

Seperti yang telah disampaikan di postingan lalu, kami bertugas mengurusi pameran dan bazar buku alias sebagai tukang jualan. Praktis tidak begitu ngeh dengan materi-materi dan acara yang diadakan untuk peserta, jadi tak banyak pula rekam gambar yang akan dibagi di sini. (backsound suara kecewa penonton)


Menjadi penjual buku sastra adalah pekerjaan paling keren sedunia, seriously.

Kamis, 07 Februari 2013

Jalankanlah

Jalankanlah kaki-kaki kata-kata
Ke hampar sawah
Tak ingin mereka meranum padi
Sebelum kau melelahkan diri
Hingga matahari melelehkan tubuhmu
Menjadi lumpur

Jalankanlah kaki-kaki kata-kata
Ke puncak bukit
Tak lantas mereka menyentuh langit
Sebelum kau patahkan diri
Hingga tersusun tulang-tulangmu
Menjadi tangga

Jalankanlah kaki-kaki kata-kata
Ke tepi benua
Tak lekas mereka berlayar
Sebelum kau ledakkan diri
Hingga getarnya bergulung hebat
Menjadi angin darat

Jalankanlah kaki-kaki kata-kata
Ke atas kertas
Tak hendak mereka jadi puisi
Sebelum kau tumpahkan seluruh darah
Hingga tubuhmu telah benar
Menjadi kosong

Selasa, 05 Februari 2013

Tips Kreatif Ala Danau Kayu

Melankolia


Cinta terkadang datang

Seperti angin kencang

Menggoyang batang pena

Menggugurkan dedaun kata

Puisi-puisi duka

Kebun Binatang

Ayah menanam angsa. Dua batang di tepi sungai. Daun-daunnya putih. Ranting-rantingnya kecil  dikepak-kepakkan angin. Hingga bergoyang condong menyentuh air. Lalu diam-diam sungai memakannya.

Ibu menanam lima biji harimau. Disemai di pekarangan. Tiap pagi ibu menyiraminya. Dengan air sungai dan matahari. Hingga tumbuh kecambah-kecambah. Hingga tumbuh belang menaungi rumah. Lalu diam-diam memakannya.

Aku menanam macam rumputan. Zebra, Simpanse, Kakak tua, Rangkok, dan Gajah Afrika. Di suatu siang aku berbaring di atasnya. Tertidur dan bermimpi bertemu ayah ibu. Mereka memberiku buah berwarna-warni. Menggandengku lalu berjalan ke negeri yang jauh sekali. Hingga matahari condong di ufuk barat. Lalu diam-diam meninggalkan serakan tulangbelulangku di atas tanah yang telah gersang. Untuk dimakan malam.

Sabtu, 02 Februari 2013

Life of Pi Vs Life of Pi - Part II


(baiklah sekarang susah saatnya kita masuk ke bagian/tindakan bodoh saya; membandingkan film dengan buku)


Saya tidak menyalahkan Ang Lee atau siapapun lah itu. Tapi menurut saya tidak seluruh nyawa dalam buku itu tersalurkan (baca: hidup) dalam film ini. 


“Lho sah-sah saja dong, film itu punya keterbatasan durasi, lagipula film kan interpretasi sutradara terhadap keseluruhan buku, terserah dia mau buat jadi apa, bahkan mau mengambil bagian yang mana saja.” Tiba-tiba terdengar suara protes yang entah datangnya dari mana.


Memang. Atau katakanlah film tersebut adalah versi terbaik yang dapat dibuat oleh manusia. Saya pun mengakui banyak visualisasi yang bagus sekali. Seperti petikan-petikan gambar berikut ini.

link foto
link foto

Life of Pi Vs Life of Pi - Part I

link foto


Sebelum saya melakukan tindakan bodoh itu, kisah berikut ini mungkin bisa menjadi pengantar yang baik.

Malam itu saya sengaja datang. Hanya untuk sebuah kepastian. Meskipun saya belum terlalu berani untuk menghadapinya. Saya takut jikalau yang saya dapat nanti adalah kepastian bahwa ia tak jadi datang. Itu akan menyakitkan sekali.

Tapi nyatanya ketakutan itu terkalahkan juga. Takhluk  oleh sebutir keinginan untuk berharap (kadarnya lebih rendah dari harapan). Seperti sebutir peluru kecil yang bersarang di jantung serdadu. Merobohkan tubuh beserta meriam tembak yang tengah ia sandang sebelumnya. Keinginan yang kecil itu telah menaklukkan kekuatan ketakutan yang besar.

Dengan cepat kedua kaki membawa tubuh. Membelah kerumunan. Lalu menapak pada tangga berjalan. Tangan saya mengetuk-ngetuk bidang pegangannya. Tak mampu menyembunyikan kecemasan. Begitu sampai di ujung tangga kaki saya langsung bergegas lagi. Melangkah-langkah lalu menapak lagi di tangga berikutnya.

Seharusnya ia akan ada di lantai empat.