Jumat, 08 Februari 2013

Sapu Terbang Tak Berkawan


 
Dunia sihir –dunia rekaan ini- memang selalu diidentikkan dengan sapu terbang, topi kain hitam berbentuk kerucut, yang keduanya dikenakan oleh si nenek sihir. Kenapa sapu terbang? Mungkin krena sifatnya yang praktis serta bentuknya yang pas untuk dipakai terbang; secara langsung sudah terdiri dari tempat duduk dan pegangan tangan. Coba misalnya sendok terbang, kan jadi repot.

Selain itu sapu terbang memiliki tingkat aerodinamis yang bagus (semoga saya tidak salah istilah) yaitu dengan dipakai dalam posisi merunduk ke depan, secara keseluruhan bagian depan sapu terbang mempunyai luas penampang yang kecil sehingga dapat dengan mudah dipakai ngebut menembus angin. Beda kasus kalau misalnya yang  dipake itu baliho terbang, beuh mau terbang sepuluh meter aja susah banget.

Terlepas dari asumsi saya yang mengada-ngada tersebut, bila ditarik ke zaman di mana kita denyutkan kehidupan yang sekali-sekalinya ini, barangkali benda ajaib yang mewakili sapu terbang itu ialah Hand Phone. Apapun merek dan tipenya.

Alat tersebut bisa membuat kita ‘terbang’ hampir ke mana saja yang kita mau, dengan menekan mantra (nomor telepon) yang tepat. Jarak memendek. Waktu‘tempuh’ menyingkat.

Dan bila ditarik –lagi- ke suasana yang lebih riuh, maka di situ lah social media berada. Sebuah perkampungan yang siapapun dari manapun bisa berada di dalamnya. Sebuah komplek perumahan maya yang dinamis –selalu beputar-, yang kita tidak pernah tahu dengan tepat siapa tetangga sebelah rumah kita. 

Seingat saya, friendster adalah sosmed pertama yang saya gunakan. Barangkali sekitaran tahun 2007. Tidak banyak kesan selain kekepoan melihat siapa saja yang telah melirik akun kita –di kemudian hari (sekarang) banyak yang membawa ‘mental’ seperti ini ke twitter-. Kalaupun ada kenangan paling boss saya semasa saya kerja di Jakarta dulu, beliau tiba-tiba nyeletuk ngomentarin puisi saya saat berlangsungnya rapat. Beuh. Setelah selesai rapat saya langsung mencoret nama perusahaan di profil.

Kemudian berlanjut facebook. Sebelum berjaya seperti sekarang, saya dulu sangat mendeskreditkan jejaring ini. Tampilannya sangat minimalis. Tidak banyak warna seperti friendser. Sebagai anak-anak yang sering terdistorsi oleh warna-warna saya mengacuhkannya.

Tentu saja akhirnya menjadi tidak banyak kesan, selain mudahnya ditemukan oleh kerabat, teman-teman dan orang-orang yang bersinggungan di dunia nyata. Yang kebanyakan jusrtru lebih membuka siapa diri mereka dibanding pada saat tampil di keseharian.

Saya pernah mencerai akun facebook ini, namun tetap saja sering ada email minta rujuk dengan intensitas di luar dugaan. Sampai saya bete. Sampai saya menghidupkannya kembali. Sekarang, keadaanya barangkali sudah penuh sarang laba-laba karena teramat jarang sekali saya kunjungi. 

Twitter kemudian datang tidak hanya sebagai alternatif namun juga sebagai solusi untuk masalah gigi sensitif saya. Twiiter terserap hingga ke akar gigi, menutupnnya, dan mencegah rasa ngilu itu datang kembali. Lah, malah jadi iklan begini.

Manfaat twitter baru terasa benar saat awal-awal 2010 lalu. Ketika itu saya baru saja pindah kerja dari Jakarta yang hingar bingar dan langsung bekerja menangani proyek konstruksi pertambangan yang lokasinya di pelosok Jambi. Sangat berkebalikan.

Sistem kerja yang lebih dari 14 jam perhari dan berlangsung 7 hari seminngu mau tak mau benar-benar menguasai kehidupan saya, dan tiwtter menjadi semacam dunia lain (hanyu dong) yang mengasikkan. Terlebih lagi (dan mungkin yang paling utama) ketika itu komunitas fiksimini baru saja menetas dan lagi giat-giatnya. Setiap pagi topik dilempar dan kemudian kita ‘berebut’ retweetan moderator.

Untung saja pekerjaan saya saat itu membutuhkan konsentrasi tingginya saat jam satu siang ke atas, jadi sebelum itu kepala saya terbelah dua, yang satu mikirin kerjaan yang satu berfikir keras membuat fiksimini sambil ketik-hapus-ketik-hapus-ketik-kirim melalui program snaptu di E63 saya ketika itu. Pusing, tapi menantang, tapi nikmat sekali. Hehe..

Dan berlanjutlah kecanduan itu (bertwitter) hingga satu bulan yang lalu. Selain fiksimini banyak sekali manfaat yang saya dapat dari twitter, mulai dari info-info paling update, ‘perang-perang’ pemikiran hingga para penyair-penyair yang keren-keren twitnya, oh juga bincang edukasi.

Tapi di mana langit dijungjung di situ bumi diinjak-injak. Di mana ada yang baik terjunjung tak jarang pula di situ ada keburukan yang berkembang biak (iya, ini terjemahan versi saya sendiri). Mulai dari kegalauan yang diperturutkan hingga lelucon-lelucon vulgar yang sangat bukan konsumsi publik.

Memang, bagaimanapun kita adalah pemegang kendali akun masing-masing, tapi bagaimanapun –lagi- ‘pergaulan’ dengan segala harus-tidak tega-sungkannya tentu saja tetap membawa dampak. 

Saat saya berkomentar tetnang sebuah hal buruk yang dilakukan orang bukan berarti saya baik, tapi saya tengah mencoba memberi garis-garis sambil mengatakan pada diri saya agar tidak melewati garis-garis berwarna merah itu.

Salah satu garis merah itu adalah –barangkali- kepopueran. Banyak sekali atraksi yang dibuat di twitter cuma untuk mengejar jumlah pengikut. Mulai dari memamerkan aib-aib orang lain bahkan dirinya sendiri (dengan penuh kebanggaan) hingga mencaci bahkan ‘merobek-robek’ kitab suci agama sendiri. Naudzubillah.

Seperti debus. Orang berjalan di atas golok tapi tidak terluka. Hebat. Orang menentang dan menantang Tuhan tidak terluka. Hebat.

Hal lainnya, dan ini yang utama bagi saya adalah terlantarnya tulisan-tulisan, terutama di blog ini. Hi..hi... Bagaimanapun –dan memang- twitter itu microblogging jadi seharian twitteran berasa sudah nulis saja. Padahal cuma berhaha-hihi.

Akhirnya saya memutuskan untuk memutuskan untuk memustuskan (hiyaahhh ribet) hubungan dengan beberapa bentuk interaksi maya, mulai dari twitter, whatsapp, hingga bbm (baru sekitar satu minggu ini bbm saya aktif lagi). Memutuskan untuk bersendiri dahulu (iya beberapa saat ke depan saya masih akan ngetwit lagi) dan bersosial dengan kehidupan nyata yang selama ini cukup terabaikan.

Meskipun tulisan-tulisan yang pada akhirnya nongkrong di blog ini tak jelas juga juntrungannya tapi saya yakin kalau semuanya berhasil sebagai tulisan yang cuma ngalor-ngidul saja. Lahhhh sama saja dong. Hehe.. Bukan, sekali lagi bukan, tulisan-tulisan ini tidaklah sebagai tujuan, tetapi proses agar saya terjangkiti oleh virus ide, agar sekeluarnya dari 2013 ini saya sakit kalau tidak menulis (amin...). 
Kamu? 
 

0 komentar:

Posting Komentar