Senin, 29 Agustus 2011

Ikat Ketupat yang Memikat


Entah apa yang terjadi dengan mata saya ini. Bertahun-tahun melihat ketupat kenapa baru kali ini begitu tercengang?


Pagi ini angin masih juga berhembus dan menggoyang-goyangkan dedaun rambutan di depan rumah. Ayam-ayam masih juga tak berpuasa, makan sembarangan dan tak pernah mencuci tangan. Di depan tivi dengan perasaaan yang tak terdefinisi saya duduk menghadap dua pokok janur kuning yang tergeletak tak berdaya di atas lantai. 


Awalnya sedikit canggung menyapa mereka, maklum, sekian tahun belakangan hingga saya lulus sma ini (yeah ini murni pencitraan) saya tak pernah membuat ketupat lagi. Keluarga di rumah lebih memilih membeli selongsong ketupat yang sudah dirakit secara legal oleh penjual di pasar, meskipun saya juga tak tahu persis mereka itu sudah ikut sertifikasi atau belum, atau sebenarnya malah mereka itu  mafia? (jreng jreeengg)


Sayalah yang bersikeras agar di lebaran tahun ini ketupatnya made in tangan saya sendiri. Wal hasil sudah ada pe-er menyelesaikan puluhan ketupat di hari libur menjelang lebaran ini. Ayo kita mulai!

Godaan



Kamis, 25 Agustus 2011

Fatamorgana

Cawan Impian


Sejak mimpiku telah mengetukkan kesadaran pertamanya
Maka jejurang batu yang dulu melumut dan melumatkan biru bahagiamu
Telah bergerser menjadi sesuatu
Yang menindih gelas-gelas air mataku

Fiksimini (episode-3)


[1]


KEMBANG DESA
Tadi pagi kutemukan kelopaknya berserak di pos ronda, bersama putung rokok dan puluhan botol miras.

[2]

JERA
Adi tak mau main bola lagi. Tubuhnya selalu terjepit di antara tiang gawang.

[3]

PECAHAN VAS BUNGA
Setelah kususun lagi malah jadi patung. Mirip sekali dengan anakku yang hilang.

[4]

SETELAH DIRAPIKAN
Bima Sakti jadi lega, semua planet ditumpuk di atas matahari.

[5]

SUNGAI-SUNGAI MENGERING
Lautan menggelepar, lalu mati kehausan.

Rabu, 24 Agustus 2011

Senin, 22 Agustus 2011

Dibuang Sayang

Tersebab dari sesudahnya daripada perjalanannya dalam liputannya (halah ribed banged). Berikut adalah foto-foto yang amat sayang kalo dibuang dari liputan kami ke Candi Muaro Jambi, Ahad lalu. Cerita lengkap tentang liputan ini dan apa saja ketakjuban-ketakjuban yang kami temukan di sana, Insya Allah akan kami postingkan juga. Tapi yang jelas pemirsa kudu liat ketakjuban-ketakjuban ini dulu... Apa?!!! Pada mau save-as foto-foto ini sama mau minta foto bareng? bol...| Byurrrr! *tetiba terbangun di emperan toko* "Bangun woy! sudah siang! ngimpi aje gawe kaliaan!!" (ceritanya lagi jadi gelandangan. gelandangan yang gegantengan, halahhh)
 





Lima Bait Sajak Cinta (3)


/1/
siapa yang membawakan
kuntum-kuntum bunga api itu
padamu
dari mimpiku?

/2/
bila cinta ialah ombak;
apakah ombak-ombak itu benar
memeluk pantai
atau hanya pundak
untuk bertolak?

/3/
malam berat
danau tak lagi berkecipak
di atas batu kering bulan
memeras ujung gaunnya

/4/
air mata api juga
yang akhirnya memijarkan
kerinduanku
seperti nyala lampu taman
di siang hari

/5/
apakah ranting
yang menyangga matahari
mampu memikul
kerdip rinduku?

Kamis, 18 Agustus 2011

Kenalan Doooong



Nah ini dia, setelah menggelar audisi sampe planet Pluto, akhirnya terpilihlah dua aktor beken yang akan memainkan drama, cerita, celoteh or whatever lah di panggung punai merindu ini.

Si burung punai merindu, yang selalu ceria dan unyu (kayak penulis-penulisnya)... Eh ga bole protes loh ya...


Rimo, harimau yang garang, perkasa dan.... ah nantikan saja ya di cerita-cerita berikutnya.... (gelitikin Rimo)




Mencontek

Jadi ceritanya kita sedang kecanduan Hugh Macleod alias ter-gaping void. Terlepas dari pro kontra tentang mencontek, beberapa edisi mendatang blog ini terencana akan terpenuhi coretan-coretan acakadut ini hohoho (ketawa firaun).

Tapi beneran ini mainan asyik, ngebebasin kita -setidaknya- untuk benar jadi diri sendiri. Tanpa takut dipuja atau dibenci atau dicaci orang lain. Kawan punai yang mau mencobanya sila bertandang ke www.gapingvoid.com. 

Oh ya, baca juga tips-tips How to be Creative dari Tuan rumahnya.

salam acakadut. ^^ 



Pelecehan

Lima Bait Sajak Cinta (2)


/1/
sebab mencintaimu
mempercahayakan dirimu
mempercayai kesendirianku

/2/
kau adalah mata kail
dengan kesepian
yang menjadi umpan

/3/
Betapa api-api itu
Menghormati kesunyianmu
Ditelannya setumpuk kering ranting
tanpa digemeretakkan gerahamnya

/4/
jemari matahari menari
di lekuk pinggang pagi
bayangan pagar
lima senti menjelang
pangkal mawar

/5/
tanah dan bebatu
tak menyukai burung-burung
karena itu mereka
meminta Tuhan
memberinya sayap

Senin, 15 Agustus 2011

Cerminan

Cartesialova

Celoteh-asal-an

Creativitas-Un

Sabtu, 13 Agustus 2011

Sabtu, 06 Agustus 2011

Fiksimini [episode-2]



Peluru Nyasar
Kaca dapur pecah. Ina memakai earphone sambil mencuci piring. Ada lubang kecil di punggungnya.

Keributan di Kandang Macan
Seorang gadis mengangkat ponsel tinggi-tinggi. “Cari sinyal!” katanya

Larangan Terbang
Ke mana-mana Garuda jalan kaki.

Jatuh Cinta Setengah Mati
Ia terbang dengan sayap-sayap patahnya. Mencoba melintasi samudera.

Haram
Uang dalam amplop menangis mendengar seorang gadis kecil bertanya siapa ayahnya dalam doa.

Dia yang Berdiam dalam Diri Kita

foto dipinjam dari sini
Apa perasaanmu sewaktu mendapati uban pertama di rambutmu? Atau sebuah kerutan di dahimu?..... Apa?! Cat rambut dan krim anti kerutan? Oh ya, saya lupa hal itu bisa disamarkan, bisa diacuhkan. Tapi tentunya kita tak bisa mempertahankan apa yang mesti terbuang. Kuku misalnya. Ia tumbuh bersama waktu. Dan ia pun akan terpangkas bersamaan dengan waktu. Secara lirih sekali ia ‘bicara’ kepada diri kita tentang pertambahan usia.

Ya, kita adalah makhluk yang bertubuh dan bertumbuh. Betapapun tik tak tik tak di dinding kita acuhkan.

Namun, sebenarnya –tentu saja ini menurut saya- ada yang berdiam dalam diri kita. Yang tetap ada kapanpun dan bagaimanapun. Yang enggan tumbuh. Yaitu jiwa anak kecil kita. Anak kecil yang dengan sifat-sifat manisnya; jujur, ceria, imajinatif, kreatif, polos, selalu penasaran terhadap segala sesuatu. Selalu ingin bertanya-tanya.

Dan sifat ‘kekanak-kanakan’ (saya beri tanda kutip untuk mengentaskan ia sementara dari asumsi negatifnya) itu bertahan bahkan ketika seseorang tersebut dianggap dewasa oleh orang atau lingkungan di sekitarnya.

Kabar baiknya, meski tak bisa benar-benar dihilangkan sifat kenak-kanakan ini bisa ditekan, atau dibonsai sekerdil-kerdilnya. Dan itu terjadi dalam orang yang tumbuh bersama jiwanya yang membatu, yang keji dan kejam (aduh seram sekali bahasanya), yang jauh dari rasa kasih sayang.

Kedewasaan seseorang tidak didapat dari membunuh jiwa kekanak-kanakannya, tapi justru dengan merangkulnya, membawanya serta, agar sebanyak mungkin mampu menjaring makna, kebaikan, kebajikan yang membuat ia melangkah atau tidak, menyentuh atau tidak. Sesuatu yang secara baik merengkuh dirinya untuk berperilaku baik, atau katakanlah itu bersikap dewasa.

Fiksimini [episode-1]



Tembak Kau
Satu letupan kecil. Sebagian nyawaku mengepul dari mulutnya. Sebagian lagi tertahan di paru-paru yang sesak oleh jeritan.

Jauh Dekat Sama Saja
Kondektur membuka pintu, menarik pria berjubah putih itu, lalu melemparkannya ke neraka.

Kata yang Terjatuh dalam Amplop
“Jangan”
Tubuhnya gemetar. Pisau berlumur darah itu jatuh berdenting seketika.

Rindu Bermain
Sore itu kaki-kaki kecil kami berlarian di tanah lapang. Baju kami basah kuyup dalam deru hujan peluru.

Hari-hari Berlari dan Saling Mendahului
Kemarin aku jatuh di jurang, kepalaku pecah. Hari ini aku menikah.