Jumat, 31 Maret 2017

Jalan Penyair



Penyair, mesti mengungkapkan sesuatu yang tak terpikirkan orang lain. Atau, dalam ungkapan para teoretikus sastra-sastrawan -penyair- mengolah peristiwa biasa menjadi luar biasa; melihat sebuah kegilaan dari kegilaan yang lain, memandang peristiwa apa pun dengan intuisi dan menerjemahkannya dengan pemahaman metalogika. 

Dalam bahasa yang lebih filosofis, menangkap fenomena, bukan dari gejala atau tanda-tanda, melainkan dari sesuatu yang jauh berada di depannya. Fenomena sekadar sebagai sinyal pada sesuatu yang melewati batas kehidupan. Ini bukan perkara rasionalitas -irasionalitas, melainkan rasionalitas-metarasionalitas.


Dikutip dari buku Jalan Puisi; Dari Nusantara ke Negeri Poci - Maman S Mahayana

0 komentar:

Poskan Komentar