Jumat, 24 September 2010

Dunia Tanpa Gembok



Hei...hei.. Sob, mungkin udah pada tau sama benda kecil berbentuk segiempat  dengan batangan melengkung diatasnya. Trus punya anak namanya “kunci” yang kadang jumlahnya lebih dari satu, sebab sang pembuat tuh benda udah paham dan pengalaman sama salah satu sifat manusia paling lumrah; lalai.
Mungkin juga kalian udah pernah ngalamin peristiwa lucu, unik yang berhubungan dengan gembok. Misalnya telat datang ke sekolah dan menemukan gerbang sekolah udah di gembok, ketiduran di WC umum yang udah di gembok dari luar oleh sang penjaga WC, ato pernah kena timpuk sama gembok karena gangguin anak gadis pemilik toko  bangunan hehe…
Yeah, whateverlah. Yang pasti kita semua pastinya udah pada tau apa sih kegunaan benda yang bernama gembok itu. Yap, sepakat! Tentunya demi menjaga keamanan hak milik kita dari kehilangan, kecurian, kemalingan, kebobolan, kemasukan, kerampokan, keracunan. Huss, apaan sih!
Ane iseng-iseng pernah mikir (mikir pake iseng???), mungkin gak suatu saat dalam kehidupan ini, kita gak memerlukan lagi yang namanya gembok??? Eithh …idungnya jangan langsung megar-megar gitu donk! Maksudnya, ketika  pada suatu masa dalam kehidupan ini manusia udah pada memiliki kesadaran untuk saling menjaga hak milik masing-masing. Tidak saling menggangu hak milik orang lain, sehingga kita gak perlu lagi khawatir sampe masang gembok sepuluh Cuma buat kandang ayam aja…ops
Ya, bener sih, kalo kita lihat kondisi hari ini disekitar kita tentu persoalannya gak segampang itu ya sob. Gak usah ane sebutin lagi masing-masing kita udah pada paham gimana suitnya menuhin kebutuhan hidup di zaman ini. Makin lama biaya idup makin mahal, dulu recehan seratus perak udah bisa bayar ongkos angkot atau dituker permen empat biji. Nah, kalo sekarang paling ntu duit cuma cukup buat kerokan doank. Jadi gak heran hal inilah yang menjadi “pemaksa” bagi sebagian orang untuk mengambil jalan pintas untuk membungkam urusan perutnya.
Namun di sisi lain kesenjangan ekonomi yang menyebabkan kejahatan itu terjadi tidak lain juga karena sebagian dari kita terlalu mendekap erat harta bendanya sehingga terjadilah sebuah ketimpangan dalam masyarakat. Jarang kita sadari bahwa didalam harta yang kita miliki kan juga ada hak milik orang lain. Zoon Politicon, manusia ialah mahluk sosial alias gak biisa hidup sendiri, sehingga Tuhan tuh sebenernya nitipin dunia beserta semua isinya ke kita buat dinikmatin bersama, termasuk harta yang kita miliki.
Hmmm asal Sob tau, ane pernah KUKERTA disebuah desa dan tinggal di rumah penduduk yang sekaligus menjadi posko kami. Pintu tuh rumah cuma ditutup alakadarnya. Gak pernah dikunci. Motor-motor pada diparkir diluar, dari pagi sampe pagi lagi. Padahal tetangga pada hilir mudik keluar masuk rumah tersebut untuk berbagai kepentingan. Kadang-kadang dengan tanpa canggung ada dari mereka yang biasa makan, minum, nonton atau apalah, selagi masih dalam taraf yang sopan dan wajar. Itu semua tentunya sudah disadari oleh sang empunya rumah, tapi gak pernah tuh ada larangan-larangan. Karena masyarakat pun menunjukkan respek balik berupa kesadaran akan batas-batas kewajaran tindakannya, istilahnya saling memahami lah gitu.
Bukannya bermaksud menawarkan utopia atau berkhayal yang muluk-muluk. Sebab keadaan yang ane andaikan ini sebenarnya sudah terbukti, walaupun hanya di sebagian kecil tempat. Tapi tak menutup kemungkinan kita semua bisa mewujudkan itu semua untuk kehidupan yang lebih luas dan universal. Bisa aja kita mulai dari diri sendiri, dari yang terkecil, dan mulai dari saat ini. Hingga “pada suatu hari” (duh jadi inget masa SD) Ane, sobat pembaca, dan semua mahluk yang mendiami bumi ini tidak akan lagi membutuhkan gembok untuk melindungi hartanya. Melainkan saling membuka pintunya lebar-lebar untuk kemudian saling berbagi. Ah, indahnya.

0 komentar:

Posting Komentar